Tutup
News

Negara Berkembang Pangkas Beban Impor Melalui Transisi Energi Terbarukan

141
×

Negara Berkembang Pangkas Beban Impor Melalui Transisi Energi Terbarukan

Sebarkan artikel ini
krisis-energi-parah,-negara-miskin-‘bakar’-triliunan-rupiah-demi-bbm
Krisis Energi Parah, Negara Miskin ‘Bakar’ Triliunan Rupiah Demi BBM

Jakarta – Krisis energi global memberikan tekanan ekonomi yang sangat berat bagi negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah.Sebanyak 74 negara yang tergabung dalam Climate Vulnerable Forum (CVF) harus menanggung biaya impor bahan bakar fosil mencapai US$155 miliar atau setara Rp2.635 triliun per tahun.

Data dari Ember menunjukkan bahwa kelompok negara ini menaungi lebih dari 1,7 miliar penduduk dunia. Mantan pejabat pemerintah AS di bidang energi dan lingkungan, John Raymond Hanger, menilai kondisi ini sebagai beban yang sangat berat.

Dampaknya, sekitar 1 miliar orang di negara-negara tersebut tidak memiliki akses listrik atau hanya mendapatkan pasokan listrik yang tidak andal. Bagi 19 negara, biaya impor bahan bakar bahkan menyumbang lebih dari 50 persen defisit perdagangan mereka.

Negara-negara yang paling terdampak di antaranya Tanzania, Sri Lanka, Tunisia, Maroko, Pakistan, dan Bangladesh. Situasi ini diprediksi akan semakin memburuk jika harga minyak dunia menyentuh angka US$100 per barel, yang dapat membengkakkan beban impor hingga lebih dari US$30 miliar atau sekitar Rp510 triliun pada 2026.

krisis ini juga memperparah akses energi global. Saat ini, sekitar 700 juta orang di dunia belum memiliki akses listrik, dengan mayoritas berada di negara-negara CVF.Selain itu, 500 juta orang lainnya harus menghadapi pemadaman listrik secara rutin.

ketergantungan pada energi fosil menjadi akar masalah utama.Saat ini, listrik hanya memenuhi sekitar 16 persen kebutuhan energi di negara-negara tersebut. Banyak rumah tangga masih mengandalkan biomassa untuk memasak dan pemanas, yang memicu 2,9 juta kematian dini setiap tahun akibat polusi udara dalam ruangan.

Di sisi lain, laporan Ember mencatat bahwa teknologi energi listrik modern, seperti tenaga surya dan baterai, kini semakin terjangkau. Dalam satu dekade terakhir, harga teknologi tersebut telah turun antara 30 persen hingga 95 persen.

Sejumlah negara mulai merespons tantangan ini dengan meningkatkan penggunaan energi terbarukan. Sebagai contoh, Namibia kini mampu menghasilkan sekitar 35 persen listriknya dari tenaga surya.

Jakarta – Krisis energi global membebani negara-negara berpenghasilan rendah dengan biaya impor bahan bakar fosil yang mencapai US$155 miliar atau setara Rp2.635 triliun per tahun.

Data dari Ember mengungkapkan, beban berat ini ditanggung oleh 74 negara berpendapatan rendah dan menengah ke bawah yang tergabung dalam Climate Vulnerable Forum (CVF). Kelompok ini mencakup lebih dari 1,7 miliar penduduk dunia.

Mantan pejabat pemerintah AS di bidang energi dan lingkungan, John Raymond Hanger, menyebut kondisi ini sebagai beban yang sangat berat. Dampaknya, sekitar 1 miliar orang tidak memiliki akses listrik atau hanya mendapatkan pasokan listrik yang tidak andal.

Bagi 19 negara, biaya impor bahan bakar bahkan menyumbang lebih dari 50 persen defisit perdagangan mereka. Negara-negara yang paling terdampak di antaranya Tanzania,Sri Lanka,Tunisia,Maroko,Pakistan,dan Bangladesh.

Jika harga minyak dunia menyentuh angka US$100 per barel, beban impor negara-negara tersebut diprediksi akan membengkak lebih dari US$30 miliar atau sekitar Rp510 triliun pada 2026.

Krisis ini juga memperburuk akses energi global. Saat ini, sekitar 700 juta orang di dunia belum memiliki akses listrik, dengan mayoritas berada di negara-negara CVF. Selain itu, 500 juta orang lainnya harus menghadapi pemadaman listrik secara rutin.

Ketergantungan pada energi fosil dinilai menjadi akar masalah. Saat ini,listrik hanya memenuhi sekitar 16 persen kebutuhan energi di negara-negara tersebut. Banyak rumah tangga masih mengandalkan biomassa untuk memasak dan pemanas, yang memicu 2,9 juta kematian dini setiap tahun akibat polusi udara dalam ruangan.

Di sisi lain, laporan Ember mencatat bahwa teknologi energi listrik modern, seperti tenaga surya dan baterai, kini semakin terjangkau. Dalam satu dekade terakhir, harga teknologi tersebut telah turun antara 30 persen hingga 95 persen.

Sejumlah negara mulai merespons dengan meningkatkan penggunaan energi terbarukan. Sebagai contoh, namibia kini mampu menghasilkan sekitar 35 persen listriknya dari tenaga surya.