Payakumbuh – Pemkot Payakumbuh mulai tancap gas menyiapkan sistem evaluasi SAKIP berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Langkah ini diambil untuk mengoptimalkan kinerja birokrasi sekaligus merespons tuntutan budaya kerja yang lebih adaptif.
Sekretaris Daerah Kota Payakumbuh, Rida Ananda, memimpin langsung rapat koordinasi bersama seluruh kepala perangkat daerah di Ruang Pertemuan Riza Falepi, Rabu. Fokus utama pertemuan adalah mematangkan sistem akuntabilitas kinerja untuk periode 2025-2026.
Rida memberikan apresiasi atas keberhasilan Pemkot Payakumbuh mempertahankan predikat BB. Berdasarkan catatan KemenPANRB, nilai SAKIP daerah ini naik dari 76,01 menjadi 76,31.
“Capaian ini cermin komitmen perangkat daerah dalam memperbaiki tata kelola. Namun, rekomendasi yang ada harus segera ditindaklanjuti agar manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat,” tegas Rida.
Meski nilai meningkat, Rida menyoroti perlunya perbaikan pada aspek keselarasan atau cascading kinerja. Ia menekankan agar sasaran strategis daerah benar-benar linear dengan program perangkat daerah, sehingga APBD terserap secara tepat sasaran.
Payakumbuh sendiri dinilai memiliki potensi besar menjadi daerah percontohan evaluasi berbasis AI. Berdasarkan survei UI-CSGAR, kota ini menempati peringkat kedua terbaik se-Sumatera Barat dalam hal kesiapan dokumen dan dukungan teknis.
Implementasi AI ini diproyeksikan memangkas durasi telaah dokumen evaluasi secara signifikan, dari dua pekan menjadi hanya dua hingga tiga hari. Percepatan ini diharapkan dapat mendukung pengambilan keputusan yang lebih akurat berbasis data.
Sebagai langkah transisi, seluruh instansi wajib menuntaskan tindak lanjut evaluasi paling lambat 30 Juni 2026. Selain itu, perangkat daerah diminta melakukan standardisasi dokumen dalam format PDF Text serta mempercepat integrasi aplikasi E-SAKIP.
Rida menegaskan bahwa orientasi utama sistem ini bukan sekadar mengejar angka semata. Ia ingin memastikan setiap rupiah anggaran pemerintah memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan warga.
Upaya penguatan akuntabilitas ini terbukti berdampak pada pembangunan daerah. Sepanjang tahun 2025, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Payakumbuh naik ke angka 81,62, menempatkannya di posisi tiga besar tertinggi di Sumatera Barat.
Dari sisi ekonomi, angka kemiskinan berhasil ditekan hingga 4,95 persen atau jauh di bawah rata-rata nasional. Bahkan, di tengah tantangan musibah kebakaran kawasan pertokoan, ekonomi kota tetap tumbuh stabil di angka 3,55 persen.
“Akuntabilitas adalah memastikan anggaran menghasilkan manfaat nyata. Kami ingin pelayanan publik terus bertransformasi menjadi lebih cepat, transparan, dan tepat sasaran,” pungkasnya.







