Ekonomi

Perry Warjiyo Mundur dari Gubernur BI, Rupiah Melemah ke Rp 18.000

5
×

Perry Warjiyo Mundur dari Gubernur BI, Rupiah Melemah ke Rp 18.000

Sebarkan artikel ini
Perry Warjiyo saat memberikan keterangan pers dalam sebuah acara resmi Bank Indonesia.
Perry Warjiyo resmi mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Gubernur Bank Indonesia.

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan hingga menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar AS pada perdagangan Senin (27/7/2026). Sentimen negatif ini dipicu oleh pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatannya sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI).

Data Bloomberg pada pukul 10.45 WIB menunjukkan mata uang Garuda melemah 0,22% ke level Rp 18.002 per dolar AS. Pelemahan ini berlanjut dari penutupan perdagangan Jumat (24/7/2026) di mana rupiah berada di posisi Rp 17.963 per dolar AS.

Tren pelemahan rupiah sebenarnya telah membayangi pasar keuangan domestik dalam beberapa waktu terakhir. Sepanjang Juli 2026, mata uang nasional kerap kali menyentuh level kritis Rp 18.000 per dolar AS akibat tekanan ekonomi makro yang persisten.

Guru Besar Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menilai pergantian pucuk pimpinan bank sentral di tengah situasi ekonomi yang rentan memicu spekulasi pasar. Investor cenderung mengambil sikap “wait and see” terhadap arah bauran kebijakan moneter ke depan.

“Pengunduran diri mendadak Gubernur Bank Indonesia berpotensi memberikan dampak psikologis serta volatilitas jangka pendek pada pasar keuangan Indonesia,” ujar Rahma, Senin (27/7/2026).

Gejolak ini diprediksi tidak hanya memengaruhi nilai tukar rupiah, tetapi juga berdampak pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan pasar Surat Berharga Negara (SBN). Pelaku pasar kini menanti kepastian mengenai transisi kepemimpinan di otoritas moneter tersebut.

Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyebut bahwa tantangan yang dihadapi rupiah saat ini bersifat struktural dan fundamental. Menurutnya, beban fiskal pemerintah yang meningkat menjadi faktor utama yang menekan kekuatan mata uang domestik.

Ibrahim menyoroti besarnya alokasi anggaran untuk berbagai program jumbo pemerintah, seperti program makan bergizi gratis dan inisiatif koperasi merah putih. Besarnya pengeluaran tersebut dinilai membebani ruang gerak fiskal negara di tengah kondisi ekonomi yang menantang.

“Siapapun yang memimpin BI saat ini akan menghadapi kesulitan besar untuk memperkuat rupiah. Masalah geopolitik global ditambah kondisi perekonomian dalam negeri yang carut marut menjadi faktor penghambat utama,” ungkap Ibrahim.

Ia menambahkan bahwa upaya keras yang dilakukan selama masa jabatan Perry Warjiyo sebelumnya belum mampu membendung tren pelemahan rupiah secara signifikan. Kondisi eksternal yang tidak menentu memperparah posisi tawar mata uang Garuda di pasar global.

Ibrahim memproyeksikan pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini akan tetap fluktuatif. Nilai tukar rupiah diperkirakan akan ditutup di kisaran Rp 17.960 hingga Rp 18.020 per dolar AS.

Sebagai catatan, fluktuasi nilai tukar rupiah ke level Rp 18.000 memang telah menjadi tren pada bulan Juli 2026. Data perdagangan mencatat mata uang ini sempat melampaui level tersebut pada 6 Juli dan 8 Juli 2026 sebelum sempat menguat tipis ke level Rp 17.963 pada 3 Juli 2026.