Tutup
EkonomiNews

Perang Iran Batalkan Ekspektasi Pasar, Suku Bunga AS?

109
×

Perang Iran Batalkan Ekspektasi Pasar, Suku Bunga AS?

Sebarkan artikel ini
ojk:-ekspektasi-pasar-soal-pemangkasan-suku-bunga-the-fed-di-2026-pupus-imbas-perang-iran
OJK: Ekspektasi Pasar soal Pemangkasan Suku Bunga The Fed di 2026 Pupus Imbas Perang Iran

Jakarta – Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, mengungkapkan bahwa eskalasi perang Iran telah memupuskan harapan pasar terhadap pemangkasan suku bunga oleh The Fed pada tahun 2026.

Sebelumnya, The Fed memberikan sinyal akan ada setidaknya satu kali pemangkasan suku bunga di tahun 2026. Tujuannya adalah untuk mempertahankan suku bunga kebijakan.

Namun, perang Iran memberikan tekanan signifikan pada perekonomian Amerika Serikat (AS). Hal ini terjadi di tengah inflasi yang persisten dan meningkatnya tingkat pengangguran.

“Pascaeskalasi konflik Iran, ekspektasi pasar bergeser ke skenario tidak adanya pemangkasan suku bunga (The Fed) di tahun 2026 ini,” ujar Kiki dalam telekonferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK periode Maret 2026, Senin (6/4/2026).

berbeda dengan kondisi tersebut, perekonomian China justru mencatatkan kinerja di atas ekspektasi. Kiki menjelaskan bahwa hal ini didorong oleh perbaikan dari sisi permintaan dan penawaran, serta dukungan stimulus pada sektor keuangan.

Meski demikian, China diperkirakan akan menurunkan target pertumbuhan ekonominya. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap tantangan struktural dan ketidakpastian eksternal yang masih berlanjut.

Di sisi lain,inflasi inti di Indonesia pada Maret 2026 tercatat mengalami penurunan. Aktivitas konsumsi juga terpantau tetap kuat di awal tahun.

“Hal itu tercermin dari pertumbuhan penjualan ritel yang diperkirakan mencapai 6,89 persen secara year-on-year (yoy), serta kinerja penjualan kendaraan bermotor yang solid,” kata Kiki.

dari sisi penawaran, PMI manufaktur juga terpantau masih berada dalam kondisi ekspansif.

“Dari sisi ketahanan eksternal, cadangan devisa nasional pada Februari 2026 tercatat berada pada level memadai dan neraca perdagangan tetap mencatatkan surplus,” pungkasnya.