JAKARTA – Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto rutin meluangkan waktu khusus untuk berdialog langsung dengan para pengusaha dalam setiap kunjungan kenegaraan. Strategi jemput bola ini dinilai efektif dalam meningkatkan kepercayaan investor terhadap iklim bisnis di Indonesia.
Rosan menuturkan, dalam setiap kunjungan ke luar negeri seperti Jepang, Korea Selatan, dan Cina, Presiden Prabowo kerap mengalokasikan waktu tujuh hingga delapan jam untuk berdiskusi dengan 10 hingga 12 investor. Menurutnya, pertemuan tatap muka ini memberikan keyakinan lebih karena investor dapat mendengar langsung penjelasan mengenai regulasi, kebijakan, serta solusi atas tantangan investasi di tanah air.
“Respons yang diberikan investor sangat positif. Mereka merasa lebih yakin setelah berdialog langsung dengan Presiden,” ujar Rosan dalam konferensi pers di kantor Kementerian Investasi, Jakarta, Kamis, 23 April 2026.
Kementerian Investasi dan Hilirisasi mencatat realisasi investasi nasional pada kuartal I 2026 mencapai Rp498,8 triliun, atau naik 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka ini setara dengan 24,4 persen dari target tahunan sebesar Rp2.041,3 triliun, sekaligus berkontribusi pada penyerapan 706.569 tenaga kerja.
Dominasi investasi pada periode ini disumbang oleh Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp250 triliun atau 50,1 persen dari total realisasi. Pertumbuhan PMA yang mencapai 8,5 persen secara tahunan ini didorong oleh persepsi positif investor terhadap stabilitas politik dan ekonomi Indonesia.
Singapura memuncaki daftar negara investor terbesar dengan nilai investasi US$4,6 miliar, diikuti oleh Hong Kong dengan US$2,7 miliar, dan Cina dengan US$2,2 miliar. Sementara itu, Malaysia dan Jepang melengkapi lima besar masing-masing dengan nilai US$1,3 miliar dan US$1 miliar.
Di sisi lain, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mencatatkan angka Rp248,8 triliun atau berkontribusi 49,9 persen terhadap total investasi. Sebaran investasi dalam negeri kini lebih banyak berada di luar Pulau Jawa dengan nilai Rp251,3 triliun, tumbuh 6,5 persen secara tahunan.
Rosan menambahkan, dukungan dari lembaga penanaman modal di negara-negara mitra, termasuk Cina, menjadi indikator kuat bahwa minat investasi global terhadap Indonesia masih sangat tinggi. Pemerintah berkomitmen untuk terus proaktif membangun komunikasi dengan para investor guna menjaga tren positif ini sepanjang tahun.







