NEW YORK – Indeks bursa Wall Street ditutup menguat pada perdagangan akhir pekan lalu, Senin, 3 Agustus 2026, yang didorong oleh lonjakan signifikan saham Amazon sebesar 15%. Kenaikan ini memberikan sentimen positif bagi pasar di tengah tekanan berkelanjutan dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat.
Indeks Nasdaq Composite mencatat kenaikan 1% ke level 25.373,85. Indeks S&P 500 tumbuh 0,7% menjadi 7.489,72, sementara Dow Jones Industrial Average menguat 276,97 poin atau 0,53% ke posisi 52.485,03.
Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS menjadi perhatian utama para pelaku pasar saat ini. Imbal hasil obligasi tenor 30 tahun naik sekitar 4 basis poin menjadi 5,25%, yang merupakan level tertinggi sejak tahun 2007.
Selain itu, imbal hasil obligasi tenor 10 tahun telah menembus angka 4,7%. Level tersebut tercatat sebagai posisi tertinggi sejak Januari 2025.
Tren kenaikan ini dipicu oleh keraguan investor terhadap komitmen Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, dalam menekan laju inflasi. Meskipun Warsh terus menegaskan komitmen bank sentral, pasar menilai tantangan dalam mengendalikan tekanan harga masih sangat besar.
Kepala Strategi Ekuitas US Bancorp Asset Management, Terry Sandven, menyatakan bahwa kenaikan imbal hasil obligasi tenor 10 tahun mendekati 5% berpotensi menekan sentimen pasar secara keseluruhan. Hal ini juga dapat memengaruhi valuasi saham di berbagai sektor.
Sandven mengibaratkan kondisi pasar saat ini seperti wahana roller coaster yang dipenuhi ketidakpastian sekaligus peluang. Ia menyoroti stabilitas inflasi dan kinerja laba perusahaan yang kuat sebagai penopang pasar.
Namun, ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga menjadi faktor risiko yang signifikan bagi investor. Konflik tersebut telah mendorong harga minyak mentah global ke level yang lebih tinggi.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat naik sekitar 1,3% menjadi US$ 84,67 per barel. Minyak Brent juga menguat 1,2% ke level US$ 90,12 per barel.
Kinerja emiten teknologi, terutama perusahaan hyperscaler dan sektor kecerdasan buatan (AI), menjadi motor penggerak utama pasar. Lonjakan harga saham Amazon didukung oleh pendapatan kuartal kedua yang melampaui ekspektasi analis, terutama dari bisnis cloud computing.
Di sisi lain, saham Apple justru merosot lebih dari 7%. Penurunan ini terjadi meskipun penjualan iPhone tercatat naik 22%, akibat pendapatan segmen layanan yang berada di bawah perkiraan pasar.
Pergerakan saham teknologi ini mengikuti pola reli yang sempat dipimpin oleh Microsoft pada Kamis (30/7). Saham Microsoft saat itu melonjak 16% setelah pertumbuhan bisnis Azure melampaui target pasar.
Secara mingguan, ketiga indeks utama Wall Street tetap mencatatkan kenaikan. Dow Jones dan S&P 500 masing-masing menguat sekitar 1%, sementara Nasdaq Composite naik 1,6%.
Kinerja bulanan sepanjang Juli menunjukkan hasil yang bervariasi bagi bursa AS. S&P 500 tercatat turun 0,1% dan Nasdaq melemah 3,2%.
Sebaliknya, Dow Jones berhasil membukukan kenaikan bulanan sebesar 0,3%. Pencapaian ini sekaligus menandai kenaikan beruntun selama empat bulan bagi indeks tersebut.






