Jakarta – Amerika Serikat dilaporkan tertinggal dari Rusia dan China dalam perlombaan pengembangan drone militer berbasis kecerdasan buatan (AI). Pejabat pertahanan dan intelijen AS mengakui bahwa teknologi drone generasi terbaru milik kedua negara pesaing tersebut kini mampu mengidentifikasi, menyerang, hingga mengoordinasikan serangan secara mandiri tanpa campur tangan manusia.
Kekhawatiran Pentagon memuncak setelah parade militer di Beijing pada September 2025 yang memamerkan deretan drone otonom canggih. Para pejabat AS menilai program drone tempur mereka saat ini belum mampu mengimbangi kecepatan inovasi yang ditunjukkan China.
Selain China, Rusia juga dianggap lebih unggul dalam kapasitas produksi. Moskow dinilai berhasil membangun fasilitas manufaktur drone yang efisien serta memanfaatkan medan perang di ukraina sebagai ajang uji coba untuk menyempurnakan teknologi mereka secara cepat.
Di sisi lain, China menerapkan strategi “integrasi sipil-militer” yang melibatkan perusahaan teknologi komersial dan startup dalam riset serta pengadaan pertahanan. Dominasi manufaktur ini memungkinkan Beijing memproduksi senjata otonom dalam skala besar yang sulit ditandingi oleh Pentagon.
Salah satu bukti nyata kemajuan China adalah pesawat tak berawak kelas berat “Jiutian” atau Langit Tinggi. Drone yang berfungsi sebagai ‘kapal induk’ ini mampu membawa hingga 100 drone kamikaze kecil berbasis AI, serta dilengkapi berbagai amunisi udara-ke-permukaan dan udara-ke-udara.
Sementara itu, Rusia terus memperkuat amunisi dan kapabilitas drone mereka di tengah konflik yang masih berlangsung, semakin menekan posisi AS dalam persaingan teknologi militer global.







