Tutup
Regulasi

Saham Konglomerat RI Didepak MSCI, Investor Ritel Perlu Jual atau Tahan?

88
×

Saham Konglomerat RI Didepak MSCI, Investor Ritel Perlu Jual atau Tahan?

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Morgan Stanley Capital International (MSCI) berencana menghapus dua emiten besar dari indeks mereka akibat tingginya konsentrasi kepemilikan saham (*high shareholding concentration* atau HSC). Keputusan ini memicu tekanan jual signifikan terhadap saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA).

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per 31 Maret 2026, kepemilikan saham BREN oleh kelompok tertentu mencapai 97,31%, sementara DSSA menyentuh 95,71%. Dominasi kepemilikan oleh pihak terafiliasi—yakni konglomerat Prajogo Pangestu untuk BREN dan keluarga Eka Tjipta Widjaja untuk DSSA—menjadi alasan utama MSCI mengevaluasi ulang status kedua saham tersebut.

Pasar bereaksi negatif terhadap pengumuman ini. Pada penutupan perdagangan Selasa (21/4/2026), saham BREN anjlok 9,47% ke level Rp 5.975 per lembar, sementara DSSA terjun 14,98% ke posisi Rp 2.780 per lembar.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, menilai saham yang bersifat *index play* memang sangat sensitif terhadap perubahan kebijakan MSCI. Menurutnya, insiden ini menjadi peringatan bagi investor agar lebih cermat memantau struktur kepemilikan dan daftar saham berkategori HSC yang diterbitkan bursa.

*Head of Research* Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menambahkan bahwa risiko terbesar dari status HSC adalah potensi hilangnya aliran dana dari investor global. Saham yang didepak dari indeks MSCI biasanya otomatis ditinggalkan oleh *passive fund* yang wajib mengikuti komposisi indeks tersebut.

“Passive fund mau tidak mau harus mengurangi posisi di saham seperti BREN dan DSSA. Bahkan, aksi jual kemungkinan besar sudah dilakukan pihak asing sebelum pengumuman resmi keluar,” ungkap Liza.

Meski tekanan pasar cukup besar, para analis mengimbau investor ritel untuk tetap tenang dan menghindari aksi jual panik (*panic selling*). Strategi yang disarankan adalah bersikap selektif dengan mengalihkan fokus pada saham yang memiliki likuiditas tinggi, *free float* besar, serta fundamental yang solid.

Di tengah gejolak pasar saham, sektor komoditas kini menjadi pilihan menarik bagi investor untuk diversifikasi portofolio. Konflik geopolitik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga energi dan komoditas global diperkirakan akan menguntungkan sektor minyak dan gas, emas sebagai *safe haven*, batu bara, serta *crude palm oil* (CPO).

Sebagai kesimpulan, penghapusan BREN dan DSSA dari indeks MSCI merupakan sentimen negatif jangka pendek akibat berkurangnya partisipasi investor asing. Namun, investor tetap disarankan untuk fokus pada fundamental perusahaan alih-alih merespons berita dengan kepanikan. Momentum untuk kembali masuk ke saham berbasis indeks MSCI dinilai lebih tepat dilakukan setelah kondisi pasar kembali stabil dan tekanan jual mereda.

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Prospek Bitcoin kian menguat di tengah kondisi konflik geopolitik global, dengan harga yang tetap bertahan di atas level krusial US$ 75.000. Pasar investasi global kembali berada di persimpangan kritis. Masa gencatan senjata antara AS dan Iran akan berakhir Rabu malam waktu Washington, dan peluang perpanjangannya sangat tipis. AS menyita kapal kargo Iran akhir pekan lalu dan terjadi insiden penembakan di Selat Hormuz,…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, sepanjang tahun 2025 volume transaksi aset kripto menyentuh Rp 482,23 triliun. Sedangkan jumlah investor mencapai 20,19 juta orang. Meski dari segi transaksi menurun dibanding periode tahun sebelumnya, secara adopsi jumlahnya tetap meningkat. Kenaikan investor juga tercermin di platform kripto. PT Pintu Kemana Saja misalnya, mencatat jumlah unduhan aplikasi i lebih dari…