Regulasi

Saham Konglomerat RI Didepak MSCI, Investor Ritel Perlu Jual atau Tahan?

210
×

Saham Konglomerat RI Didepak MSCI, Investor Ritel Perlu Jual atau Tahan?

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Morgan Stanley Capital International (MSCI) berencana menghapus dua emiten besar dari indeks mereka akibat tingginya konsentrasi kepemilikan saham (*high shareholding concentration* atau HSC). Keputusan ini memicu tekanan jual signifikan terhadap saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA).

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per 31 Maret 2026, kepemilikan saham BREN oleh kelompok tertentu mencapai 97,31%, sementara DSSA menyentuh 95,71%. Dominasi kepemilikan oleh pihak terafiliasi—yakni konglomerat Prajogo Pangestu untuk BREN dan keluarga Eka Tjipta Widjaja untuk DSSA—menjadi alasan utama MSCI mengevaluasi ulang status kedua saham tersebut.

Pasar bereaksi negatif terhadap pengumuman ini. Pada penutupan perdagangan Selasa (21/4/2026), saham BREN anjlok 9,47% ke level Rp 5.975 per lembar, sementara DSSA terjun 14,98% ke posisi Rp 2.780 per lembar.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, menilai saham yang bersifat *index play* memang sangat sensitif terhadap perubahan kebijakan MSCI. Menurutnya, insiden ini menjadi peringatan bagi investor agar lebih cermat memantau struktur kepemilikan dan daftar saham berkategori HSC yang diterbitkan bursa.

*Head of Research* Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menambahkan bahwa risiko terbesar dari status HSC adalah potensi hilangnya aliran dana dari investor global. Saham yang didepak dari indeks MSCI biasanya otomatis ditinggalkan oleh *passive fund* yang wajib mengikuti komposisi indeks tersebut.

“Passive fund mau tidak mau harus mengurangi posisi di saham seperti BREN dan DSSA. Bahkan, aksi jual kemungkinan besar sudah dilakukan pihak asing sebelum pengumuman resmi keluar,” ungkap Liza.

Meski tekanan pasar cukup besar, para analis mengimbau investor ritel untuk tetap tenang dan menghindari aksi jual panik (*panic selling*). Strategi yang disarankan adalah bersikap selektif dengan mengalihkan fokus pada saham yang memiliki likuiditas tinggi, *free float* besar, serta fundamental yang solid.

Di tengah gejolak pasar saham, sektor komoditas kini menjadi pilihan menarik bagi investor untuk diversifikasi portofolio. Konflik geopolitik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga energi dan komoditas global diperkirakan akan menguntungkan sektor minyak dan gas, emas sebagai *safe haven*, batu bara, serta *crude palm oil* (CPO).

Sebagai kesimpulan, penghapusan BREN dan DSSA dari indeks MSCI merupakan sentimen negatif jangka pendek akibat berkurangnya partisipasi investor asing. Namun, investor tetap disarankan untuk fokus pada fundamental perusahaan alih-alih merespons berita dengan kepanikan. Momentum untuk kembali masuk ke saham berbasis indeks MSCI dinilai lebih tepat dilakukan setelah kondisi pasar kembali stabil dan tekanan jual mereda.

Regulasi

Jakarta, IDN Times – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terus menerus hingga jatuh di bawah level 6.000 dipengaruhi sentimen negatif terhadap perekonomian dalam negeri. Padahal, menurutnya, fundamental ekonomi Indonesia tumbuh baik. “Jadi kendala utamanya adalah persepsi nega…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Tren pemanfaatan teknologi blockchain terus berkembang, termasuk menghadirkan platform prediksi berbasis aset digital. Salah satu model yang mulai berkembang adalah outcomes market. Ini adalah platform yang memungkinkan pengguna memprediksi hasil suatu peristiwa dan memperoleh imbalan apabila prediksinya tepat. Memanfaatkan konsep tersebut, platform perdagangan kripto global, OKX meluncurkan The Beautiful Game, sebuah…

Regulasi

Jakarta, IDN Times – Bank Indonesia (BI) menyiapkan penyesuaian remunerasi atau bunga yang diberikan kepada pemerintah sebagai bagian dari upaya menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan sektor perbankan. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan langkah itu dilakukan melalui pengelolaan kas pemerintah yang tetap ditempatkan di BI. Hal itu disampai…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada akhir perdagangan Jumat (5/6/2026). IHSG ditutup merosot 245,02 poin atau 4,2% ke level 5.594, memperpanjang tren pelemahan pasar saham domestik di tengah meningkatnya sentimen negatif. Dalam sepekan terakhir, IHSG tercatat turun hingga 8,73%. Penurunan tajam tersebut juga dibarengi dengan aksi jual bersih (net sell) investor asing yang mencapai Rp 13,78…