Tutup
Regulasi

Bitcoin Bertahan di Atas US$ 75.000, Tren Harga Kian Menguat

84
×

Bitcoin Bertahan di Atas US$ 75.000, Tren Harga Kian Menguat

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Harga Bitcoin menunjukkan ketahanan luar biasa di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global. Aset kripto utama ini mampu mempertahankan posisi di atas level krusial US$ 75.000, meskipun ancaman eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran terus membayangi pasar.

Pasar investasi global kini berada di titik krusial seiring dengan akan berakhirnya masa gencatan senjata antara AS dan Iran pada Rabu malam waktu Washington. Peluang perpanjangan kesepakatan tersebut dinilai sangat tipis, terutama setelah insiden penyitaan kapal kargo Iran dan penembakan di Selat Hormuz yang memanas dalam beberapa hari terakhir.

Meski secara teori konflik berskala besar akan menekan aset berisiko, Bitcoin justru menunjukkan pola pergerakan yang berbeda. Data perdagangan per Rabu (22/4) pukul 06.50 WIB mencatat harga Bitcoin berada di level US$ 76.050, naik 0,32% secara harian.

Analis dari Reku, Fahmi Almuttaqin, menilai fenomena ini sebagai sinyal kematangan pasar. Menurutnya, blokade militer dan ancaman perang kini hanya mampu menekan harga Bitcoin dalam waktu singkat sebelum akhirnya permintaan kembali melonjak.

“Posisi Bitcoin telah semakin bergeser menjadi *inflation hedge* (lindung nilai inflasi), setelah sebelumnya lebih banyak dipersepsikan sebagai *risk-on asset*,” jelas Fahmi.

Ketahanan harga Bitcoin juga didorong oleh permintaan institusional yang terstruktur. Data menunjukkan adanya akumulasi besar, di mana perusahaan besar mengakuisisi 34.164 BTC senilai US$ 2,54 miliar pada pekan 13-19 April. Pembelian masif ini menciptakan tekanan beli stabil yang mengurangi suplai Bitcoin di pasar, menjadikannya semakin langka di tengah meningkatnya adopsi.

Fahmi mencatat bahwa ini merupakan eskalasi keempat dalam konflik AS-Iran yang diserap pasar kripto. Pola yang terjadi berulang adalah tekanan jual yang semakin melemah setiap kali ketegangan memuncak.

Di tengah ancaman inflasi global akibat potensi kenaikan harga minyak, Bitcoin kini semakin dilirik sebagai instrumen untuk menjaga nilai kekayaan dari depresiasi mata uang fiat. Hal ini dianggap sangat relevan bagi investor di Indonesia yang tengah menghadapi tekanan nilai tukar rupiah.

Bagi investor yang ingin memanfaatkan momentum ini, strategi *Dollar Cost Averaging* (DCA) atau pembelian rutin dalam jumlah terukur disarankan sebagai pendekatan yang paling bijak. Strategi ini dinilai lebih efektif dalam menjaga fokus pada fundamental jangka panjang daripada sekadar bereaksi terhadap fluktuasi harian akibat sentimen berita.

Ke depan, jika *supply shock* terbentuk akibat meningkatnya kelangkaan dan adopsi yang meluas, nilai fundamental Bitcoin berpotensi mengalami peningkatan signifikan, dengan peluang menuju level US$ 80.000 jika konsolidasi terus terjaga.

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ditutup di zona merah pada perdagangan Selasa (21/4/2026), memperpanjang tren pelemahan sejak awal pekan. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui RTI, IHSG terkoreksi 0,46% ke level 7.559,38. Sepanjang sesi perdagangan, indeks bergerak melemah dengan menyentuh level terendah 7.511 dan sempat berada di posisi tertinggi 7.568. Baca Juga: SumbarSumbarbisnis.com Sell Rp 1,49 Triliun…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan rencana penghapusan dua saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) akibat tingginya konsentrasi kepemilikan atau high shareholding concentration (HSC). Lalu, bagaimana sebaiknya investor ritel merespons sentimen ini: jual atau tahan? Pengumuman MSCI tersebut langsung mengguncang pasar saham. Dua emiten yang terdampak adalah PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian…