NEW YORK – Bursa saham Wall Street ditutup dengan hasil yang beragam pada perdagangan Selasa (9/6/2026). Indeks S&P 500 dan Nasdaq tertekan akibat aksi jual lanjutan pada saham-saham sektor teknologi, sementara indeks Dow Jones Industrial Average berhasil mencatatkan penguatan di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Dow Jones Industrial Average ditutup menguat 86,10 poin atau 0,17% ke level 50.872,11. Di sisi lain, indeks S&P 500 terkoreksi 19,08 poin atau 0,26% ke posisi 7.386,65, dan Nasdaq Composite melemah 250,84 poin atau 0,97% menjadi 25.678,82.
Sentimen pasar kembali memburuk setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan insiden penembakan helikopter militer Apache milik AS oleh Iran di Selat Hormuz. Trump menegaskan bahwa Washington akan memberikan respons atas serangan tersebut. Pernyataan ini memicu kekhawatiran baru di kalangan investor mengenai keberlanjutan gencatan senjata di Timur Tengah, menggugurkan optimisme yang sempat muncul sehari sebelumnya saat Iran dan Israel menyatakan jeda dalam konflik.
Ketegangan geopolitik tersebut tercermin pada Cboe Volatility Index (VIX), yang merupakan indikator ketakutan investor. Indeks tersebut sempat menyentuh level tertinggi sejak 7 April akibat aksi jual yang meluas di berbagai sektor.
Sektor teknologi menjadi pusat tekanan setelah sempat mengalami reli pada Senin (8/6). Indeks sektor teknologi S&P 500 ditutup melemah 1,8%, sementara indeks semikonduktor Philadelphia SE mencatat penurunan 1,9% setelah sempat anjlok hingga 8,6% selama sesi perdagangan. Beberapa emiten utama seperti Broadcom turun 1,1%, Nvidia melemah 0,2%, dan Ciena merosot 5,9% pasca pengumuman penerbitan surat utang konversi.
Kepala Strategi Pasar JonesTrading, Michael O’Rourke, menilai pelemahan ini dipicu oleh berakhirnya momentum pemulihan teknikal. Menurutnya, kegagalan reli pagi hari memicu aksi ambil untung dan rotasi portofolio dari saham-saham yang sebelumnya mengalami kenaikan signifikan. Kendati mengalami koreksi, indeks semikonduktor Philadelphia tercatat masih membukukan kenaikan sekitar 78,7% sepanjang tahun 2026.
Investor saat ini juga mengambil sikap waspada menjelang rilis data inflasi konsumen AS periode Mei yang dijadwalkan pada Rabu (10/6). Data ini krusial untuk mengukur dampak kenaikan harga energi akibat konflik di Timur Tengah terhadap tekanan inflasi domestik, yang juga akan memengaruhi kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Di tengah ketegangan tersebut, pasar juga terus memantau rencana debut saham SpaceX milik Elon Musk yang dijadwalkan pada Jumat (12/6). IPO ini diproyeksikan menjadi salah satu penawaran saham terbesar dalam sejarah Wall Street dengan target penghimpunan dana mencapai US$ 75 miliar. Manajer Portofolio Argent Capital Management, Jed Ellerbroek, menyatakan bahwa tingginya antusiasme investor terhadap SpaceX berpotensi memicu volatilitas tinggi pada hari perdana perdagangan perusahaan antariksa tersebut.







