JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat (AS) mengawali perdagangan Rabu (10/6/2026) di zona merah. Indeks-indeks utama Wall Street tertekan akibat aksi jual pada sektor teknologi dan kecerdasan buatan (AI), di tengah sentimen negatif dari eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran serta tingginya angka inflasi.
Hingga pukul 09.37 waktu New York, Dow Jones Industrial Average terkoreksi 285,36 poin atau 0,56% ke level 50.586,75. Sementara itu, indeks S&P 500 melemah 0,45% ke posisi 7.353,21, dan Nasdaq Composite tergelincir 0,57% menjadi 25.531,04.
Data ekonomi terbaru menunjukkan indeks harga konsumen (CPI) AS naik 4,2% secara tahunan hingga Mei 2026. Angka tersebut menjadi kenaikan tertinggi sejak April 2023, yang dipicu oleh lonjakan harga bensin dan energi akibat konflik di Timur Tengah. Meski sesuai dengan ekspektasi pasar, data ini mempertegas tantangan inflasi yang dihadapi Federal Reserve.
Kepala Strategi Pasar B. Riley Wealth, Art Hogan, menyatakan bahwa data inflasi tersebut belum mengubah proyeksi kebijakan moneter. Konsensus pelaku pasar masih meyakini The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan Juni mendatang, meski peluang kenaikan sebesar 25 basis poin hingga akhir tahun masih diperhitungkan.
Sektor teknologi menjadi sasaran utama aksi jual, dipicu oleh kekhawatiran atas valuasi yang dinilai terlalu tinggi. Saham perusahaan raksasa teknologi seperti Nvidia, Broadcom, dan Micron Technology mencatatkan penurunan antara 1% hingga 3,8%. Tekanan lebih berat dialami Super Micro Computer yang anjlok 14,2% setelah perusahaan mengumumkan rencana penghimpunan dana sebesar US$7 miliar untuk mendukung ekspansi server AI.
Selain itu, sektor logistik dan transportasi turut tertekan setelah Amazon mengumumkan perluasan layanan pengiriman less-than-truckload (LTL). Dampaknya, saham emiten seperti XPO, J.B. Hunt, dan Old Dominion merosot antara 2,5% hingga 6,2%, yang menyeret indeks sektor industri turun sekitar 1%.
Di sisi lain, rotasi modal dari sektor teknologi mengalir ke sektor yang sebelumnya tertinggal. Sektor energi menjadi penopang utama dengan kenaikan seiring melonjaknya harga minyak dunia lebih dari 1%. Sebanyak enam dari 11 sektor utama dalam indeks S&P 500 masih mencatat penguatan.
Ketidakpastian global juga tercermin dari kenaikan CBOE Volatility Index (VIX) sebesar 0,78 poin ke level 20,65. Sentimen pasar semakin dibayangi oleh memanasnya hubungan diplomatik AS dan Iran, menyusul pernyataan keras Presiden AS Donald Trump mengenai prospek negosiasi kedua negara.
Tekanan pasar diprediksi masih akan berlanjut, terutama dengan rencana pencatatan saham SpaceX senilai US$1,75 triliun pada akhir pekan ini. Investor khawatir langkah tersebut dapat memicu volatilitas tambahan di tengah optimisme yang berlebihan terhadap sektor teknologi. Di Bursa Efek New York, jumlah saham yang melemah tercatat lebih banyak dibandingkan saham yang menguat dengan rasio 1,17 banding 1.







