Bursa Saham

4 Saham Konglomerat HSC Jadi Penopang Utama Kapitalisasi Pasar BEI

74
×

4 Saham Konglomerat HSC Jadi Penopang Utama Kapitalisasi Pasar BEI

Sebarkan artikel ini
Gedung Bursa Efek Indonesia di Jakarta dengan latar belakang aktivitas perdagangan saham
Empat saham konglomerat dengan konsentrasi kepemilikan tinggi menjadi penopang utama kapitalisasi pasar BEI.

JAKARTA – Dominasi saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) kini menjadi penopang utama kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Per Kamis, 16 Juli 2026, empat emiten raksasa yang dikuasai konglomerat tercatat memegang peran vital dalam pergerakan indeks dengan porsi kepemilikan publik yang sangat minim.

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tetap memuncaki daftar emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar, yakni mencapai Rp748 triliun atau setara dengan 7,08% dari total kapitalisasi pasar bursa. Posisi tersebut diikuti oleh PT DCI Indonesia Tbk (DCII) dengan nilai kapitalisasi Rp474 triliun.

Data statistik BEI per 15 Juli 2026 menunjukkan bahwa DCII, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Bayan Resources Tbk (BYAN), dan PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) merupakan deretan saham dalam kategori HSC yang masuk dalam jajaran 10 besar kapitalisasi pasar. Keempat emiten ini memiliki bobot signifikan yang mencapai 15% terhadap total Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Tingginya konsentrasi kepemilikan pada saham-saham tersebut tercermin dari persentase saham yang dikuasai oleh pemegang saham pengendali. PT DCI Indonesia Tbk (DCII) tercatat memiliki konsentrasi kepemilikan mencapai 99,96%.

Selanjutnya, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) milik Prajogo Pangestu memiliki tingkat konsentrasi 97,31%. Sementara itu, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) yang berada di bawah kendali Low Tuck Kwong mencatatkan konsentrasi kepemilikan sebesar 98,50%.

PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) dari Grup Sinarmas juga masuk dalam daftar ini dengan tingkat kepemilikan terkonsentrasi sebesar 95,65%. Dominasi ini memicu diskusi mengenai likuiditas saham di pasar sekunder bagi investor ritel.

Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar 10 emiten terbesar di BEI saat ini masih didominasi oleh kombinasi antara saham perbankan dan emiten konglomerasi. Selain BBCA, sektor perbankan diwakili oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dengan kapitalisasi Rp425 triliun dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebesar Rp388 triliun.

Emiten lainnya yang melengkapi daftar 10 besar adalah PT Bayan Resources Tbk (BYAN) dengan Rp383 triliun dan PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) senilai Rp311 triliun. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menyusul dengan Rp273 triliun, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) sebesar Rp250 triliun, dan PT Astra International Tbk (ASII) senilai Rp196 triliun.

Pergeseran peta kapitalisasi pasar ini menunjukkan adanya dinamika baru di bursa domestik, di mana saham konglomerasi mulai bersaing ketat dengan emiten perbankan yang selama ini menjadi penggerak utama pasar modal Indonesia. Kondisi High Shareholding Concentration ini menuntut kehati-hatian lebih bagi investor ritel terkait volatilitas harga saham yang memiliki free float atau porsi saham publik yang rendah.