Perdagangan

JFX Catatkan Nilai Transaksi Rp 3.268 Triliun Sepanjang Juli 2026

52
×

JFX Catatkan Nilai Transaksi Rp 3.268 Triliun Sepanjang Juli 2026

Sebarkan artikel ini
Gedung kantor Jakarta Futures Exchange di Jakarta
PT Bursa Berjangka Jakarta mencatatkan nilai transaksi sebesar Rp 3.268 triliun sepanjang Juli 2026.

JAKARTA – PT Bursa Berjangka Jakarta (Jakarta Futures Exchange/JFX) mencatatkan lonjakan aktivitas perdagangan komoditas yang signifikan sepanjang Juli 2026 dengan total nilai transaksi mencapai Rp 3.268 triliun.

Pencapaian tersebut bersumber dari tiga pilar utama perdagangan di JFX, yakni perdagangan multilateral, bilateral, serta Perdagangan Akses Luar Negeri (PALN).

Direktur Utama JFX, Yazid Kanca Surya, menyatakan bahwa peningkatan volume transaksi ini mencerminkan penguatan peran bursa sebagai sarana pembentukan harga (price discovery) yang transparan.

Menurut Yazid, mekanisme perdagangan yang aktif memungkinkan informasi pasar terintegrasi secara lebih akurat ke dalam harga komoditas.

Bagi pelaku industri, harga yang terbentuk di bursa menjadi acuan utama dalam mengelola risiko bisnis di tengah dinamika pasar global.

Volatilitas harga komoditas dunia saat ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kendala pasokan, fluktuasi permintaan, hingga kebijakan ekonomi global.

Kondisi tersebut menuntut para pelaku usaha untuk memiliki referensi harga yang kredibel sebagai dasar pengambilan keputusan strategis dan lindung nilai.

Data JFX menunjukkan kinerja spesifik pada sejumlah komoditas unggulan selama periode 28 Juni hingga 25 Juli 2026.

Volume transaksi perdagangan Olein tercatat mencapai 67.564 lot dengan nilai ekonomi sekitar Rp 6,85 triliun.

Sementara itu, perdagangan timah ekspor sepanjang Juli 2026 membukukan volume 2.855 lot dengan nilai transaksi mencapai Rp 2,66 triliun.

Di sisi lain, aktivitas Perdagangan Akses Luar Negeri (PALN) memberikan kontribusi besar dengan mencatatkan nilai transaksi sebesar Rp 54,45 triliun dari 3,92 juta lot.

Yazid menekankan bahwa Indonesia, sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, memiliki potensi besar untuk menetapkan harga referensi domestik yang lebih kredibel.

Ia menilai harga referensi yang ideal tidak boleh ditetapkan secara sepihak, melainkan harus lahir dari interaksi pasar yang transparan dan likuid.

Penguatan mekanisme pembentukan harga dalam negeri dipandang krusial agar tidak terus bergantung sepenuhnya pada acuan harga internasional.

Sementara itu, pasar modal Indonesia secara keseluruhan juga menunjukkan tren positif pada Jumat (7/8/2026).

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 65,94 poin atau 1,04% ke level 6.409,65 di akhir sesi perdagangan.

Sebanyak 355 saham tercatat mengalami kenaikan di tengah kewaspadaan investor terhadap volatilitas yang dipicu oleh proses rebalancing indeks MSCI dan FTSE.

Kondisi pasar yang dinamis ini sejalan dengan meningkatnya perhatian pelaku pasar terhadap kontrak terstandardisasi dan transparansi data perdagangan di bursa.

Harga acuan Olein di pasar global sendiri sempat mengalami kenaikan sebesar 3,52% menjadi US$1.175 per ton pada akhir Juli 2026.

Tren kenaikan tersebut dipicu oleh penguatan harga minyak mentah Brent serta peningkatan permintaan dari pasar Tiongkok.