Telekomunikasi

Laba Telkom Tumbuh Jadi Rp10,6 Triliun di Semester I 2026

42
×

Laba Telkom Tumbuh Jadi Rp10,6 Triliun di Semester I 2026

Sebarkan artikel ini
Logo PT Telkom Indonesia dengan latar belakang gedung perkantoran
PT Telkom Indonesia mencatatkan laba bersih sebesar Rp10,6 triliun pada semester pertama tahun 2026.

JAKARTA – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp10,6 triliun sepanjang semester pertama tahun 2026. Capaian ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 1,4% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Kinerja positif perusahaan pelat merah tersebut didorong oleh pemulihan signifikan pada lini bisnis layanan seluler Telkomsel. Selain itu, efisiensi operasional yang ketat di seluruh lini bisnis turut berkontribusi terhadap stabilitas keuangan perseroan di tengah dinamika pasar.

Hingga akhir Juni 2026, pendapatan konsolidasi Telkom tercatat mencapai Rp75,9 triliun. Angka tersebut mencerminkan pertumbuhan sebesar 3,9% secara tahunan atau year-on-year (YoY).

Sejalan dengan kenaikan pendapatan, EBITDA perusahaan juga mengalami peningkatan sebesar 3,8% menjadi Rp37,5 triliun. Sementara itu, laba bersih yang dinormalisasi tumbuh lebih impresif, yakni sebesar 6,2% YoY dengan nilai mencapai Rp11,3 triliun.

Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, menyatakan bahwa hasil ini merupakan buah dari keberhasilan strategi transformasi digital yang diterapkan perusahaan. Fokus pada efisiensi bisnis dan penguatan layanan seluler menjadi pilar utama dalam menjaga performa perseroan.

Pencapaian ini memperkuat optimisme manajemen untuk mempercepat transformasi digital secara menyeluruh. Telkom menegaskan posisinya sebagai pemimpin ekosistem digital di Indonesia melalui berbagai inovasi layanan.

Pada segmen Business-to-Consumer (B2C), pendapatan Telkomsel tumbuh 3,3% menjadi Rp55,6 triliun. Kenaikan ini ditopang oleh pertumbuhan pendapatan bisnis data digital sebesar 11%.

Indikator kinerja operasional lainnya, yakni Average Revenue Per User (ARPU) mobile, tercatat meningkat 9% menjadi Rp45.600. Peningkatan konsumsi data selama musim libur sekolah dan gelaran Piala Dunia 2026 menjadi faktor pendukung utama kenaikan tersebut.

Di sisi lain, segmen fixed broadband IndiHome mencatat jumlah pelanggan sebanyak 9,5 juta hingga semester pertama 2026. Meskipun jumlah pelanggan mengalami penurunan dari 10,1 juta pada periode tahun lalu, kualitas basis pelanggan justru meningkat.

ARPU IndiHome tercatat naik 3,4% secara kuartalan menjadi Rp211.000. Rasio konvergensi layanan juga menunjukkan penguatan dengan mencapai angka 65%.

Langkah ini merupakan strategi perusahaan untuk membangun basis pelanggan yang lebih berkualitas. Telkom memprioritaskan efektivitas monetisasi layanan guna memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan.

Pada segmen Business-to-Business (B2B) Infrastructure, pendapatan tumbuh sebesar 19% menjadi Rp33,1 triliun. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan signifikan pada layanan data, internet, serta IT Services.

Bisnis menara telekomunikasi melalui anak usaha, Mitratel, turut mencatatkan pendapatan sebesar Rp4,7 triliun. Angka tersebut tumbuh 2,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Telkom juga berkomitmen memperkuat lini bisnis data center melalui NeutraDC. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan permintaan infrastruktur digital di masa depan.

Strategi ke depan difokuskan pada perluasan layanan dan optimalisasi aset. Perusahaan akan terus melakukan kolaborasi dengan mitra strategis untuk mendorong pertumbuhan bisnis secara jangka panjang.