Bursa Saham

Saham MDIA Melonjak, Potensi Rerating Harga Saham VIVA Kian Terbuka

46
×

Saham MDIA Melonjak, Potensi Rerating Harga Saham VIVA Kian Terbuka

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan harga saham di layar monitor perdagangan bursa efek
Saham PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) diproyeksikan mengalami rerating seiring lonjakan harga saham anak usahanya, MDIA.

JAKARTA – Saham PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) diproyeksikan memiliki potensi rerating atau penyesuaian nilai pasar ke arah yang lebih tinggi. Momentum ini didorong oleh lonjakan harga saham PT Intermedia Capital Tbk (MDIA) yang merupakan anak usaha sekaligus aset utama perusahaan.

Hingga perdagangan sesi pertama Jumat (7/8/2026), saham MDIA mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 240% dalam satu bulan terakhir. Lonjakan tersebut membawa kapitalisasi pasar MDIA menyentuh angka Rp 9,33 triliun.

VIVA saat ini masih bertindak sebagai pemegang saham pengendali MDIA dengan porsi kepemilikan mencapai 80,73%. Berdasarkan valuasi terkini, nilai pasar kepemilikan VIVA di MDIA diperkirakan mencapai Rp 7,5 triliun.

Analis menilai peluang rerating bagi VIVA akan semakin terbuka lebar jika investor mulai memperhitungkan nilai aset perusahaan secara lebih komprehensif. Pasar diharapkan mulai memberikan apresiasi yang lebih adil terhadap nilai intrinsik aset yang dimiliki VIVA.

Saat ini, saham VIVA diperdagangkan pada level Rp 54 per lembar dan masih berada di bawah mekanisme Full Call Auction (FCA). Kondisi tersebut menjadi perhatian khusus bagi para pelaku pasar.

Apabila harga saham VIVA mampu bertahan di atas level Rp 50 sesuai ketentuan Bursa Efek Indonesia, peluang untuk keluar dari papan pemantauan khusus semakin terbuka. Keluar dari mekanisme FCA diprediksi akan meningkatkan likuiditas perdagangan sekaligus memperluas basis investor.

Peningkatan likuiditas tersebut diharapkan dapat memperbaiki efisiensi transaksi saham VIVA di pasar sekunder. Dengan demikian, hambatan investasi bagi pelaku pasar yang menghindari saham dalam papan pemantauan khusus dapat teratasi.

Dalam pendekatan sum of the parts (SOTP) dengan asumsi holding company discount sebesar 50%, nilai kepemilikan VIVA di MDIA masih berada di kisaran Rp 3,7 triliun. Angka tersebut tercatat hampir empat kali lipat lebih besar dibandingkan dengan kapitalisasi pasar VIVA saat ini.

Kesenjangan nilai antara aset bersih dan harga pasar tersebut menunjukkan adanya ruang apresiasi yang cukup lebar. Hal ini memberikan argumen bagi investor untuk melihat VIVA sebagai aset yang potensial jika pasar mulai memberikan penilaian yang lebih wajar.

Meski demikian, pelaku pasar diminta tetap berhati-hati dalam melakukan penilaian. Perusahaan induk pada umumnya memang cenderung diperdagangkan di bawah nilai aset bersihnya karena pengaruh berbagai faktor eksternal dan internal.

Struktur utang, biaya operasional, serta tata kelola perusahaan menjadi variabel penentu dalam penilaian tersebut. Selain itu, kemampuan perusahaan dalam menciptakan nilai berkelanjutan bagi para pemegang saham juga menjadi faktor krusial bagi investor jangka panjang.

Di tengah fluktuasi indeks harga saham gabungan, manajemen risiko tetap menjadi prioritas bagi investor. Mengamati peluang aset di tengah dinamika pasar merupakan langkah strategis yang disarankan oleh para ahli keuangan guna menghadapi volatilitas pasar modal saat ini.