Perdagangan

Transaksi TikTok Shop Diproyeksi Tembus Rp2.223 Triliun pada 2026

50
×

Transaksi TikTok Shop Diproyeksi Tembus Rp2.223 Triliun pada 2026

Sebarkan artikel ini
Tampilan antarmuka aplikasi TikTok Shop di layar ponsel pintar dengan latar belakang grafik pertumbuhan ekonomi
TikTok Shop diproyeksikan mencapai nilai transaksi bruto sebesar Rp2.223 triliun pada tahun 2026.

JAKARTA – TikTok Shop diproyeksikan mampu membukukan nilai transaksi bruto atau Gross Merchandise Volume (GMV) global sebesar US$ 123,5 miliar atau setara dengan Rp 2.223 triliun sepanjang tahun 2026. Angka tersebut menempatkan platform e-commerce asal Tiongkok ini di jalur untuk mencatatkan rekor GMV tahunan di atas US$ 100 miliar untuk pertama kalinya.

Berdasarkan laporan terbaru Momentum Works berjudul TikTok Shop in the US First Half 2026, perolehan GMV global pada semester pertama tahun ini mencapai US$ 50,3 miliar atau Rp 905,4 triliun. Capaian tersebut mencerminkan lonjakan sebesar 92% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Amerika Serikat kembali mengukuhkan posisinya sebagai pasar terbesar TikTok Shop secara global. Kontribusi GMV dari pasar Amerika Serikat pada semester pertama mencapai US$ 11,8 miliar atau Rp 212,4 triliun, yang menunjukkan pertumbuhan sebesar 103% secara tahunan.

Pertumbuhan di Amerika Serikat tercatat sangat konsisten dengan catatan GMV bulanan yang melampaui US$ 2 miliar atau Rp 36 triliun dalam empat bulan berturut-turut, yakni dari Maret hingga Juni 2026. Ekspansi ini didukung oleh peningkatan signifikan jumlah toko di ekosistem TikTok Shop AS yang kini mencapai 1,35 juta unit.

Jumlah kreator konten atau influenser yang terlibat dalam ekosistem ini juga mengalami kenaikan menjadi 20 juta orang. Selain itu, terdapat 5.700 toko yang berhasil meraih GMV di atas US$ 1 juta, meningkat 7,6 kali lipat dibandingkan periode sebelumnya.

Sebanyak 506 toko bahkan mampu mencatatkan GMV di atas US$ 10 juta atau Rp 180 miliar. Dua toko, yakni medicube US Store dan Dr.Melaxin, menonjol dengan perolehan GMV masing-masing melampaui US$ 100 juta atau Rp 1,8 triliun selama semester pertama tahun ini.

Terdapat pergeseran pola transaksi di pasar Amerika Serikat, di mana toko daring kini menjadi sumber GMV terbesar dengan kontribusi mencapai 51,4%. Sementara itu, kontribusi dari video dan siaran langsung atau live streaming mengalami penurunan porsi dibandingkan tahun lalu.

Meskipun kontribusi live streaming turun menjadi 8,2%, saluran tersebut tetap menjadi kanal krusial bagi penjual papan atas. Data menunjukkan delapan dari 10 influenser teratas di Amerika Serikat masih sangat mengandalkan siaran langsung dalam operasional bisnis mereka.

Persaingan di dalam platform pun semakin ketat, yang tercermin dari penurunan harga rata-rata pada 21 dari 27 kategori produk. Kategori Aksesori dan Perhiasan mencatat penurunan harga paling tajam, yakni mencapai 57%.

Momentum Works menilai ekosistem TikTok Shop di Amerika Serikat telah beranjak dari fase uji coba menuju tahap yang lebih terstruktur. Pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI dalam produksi konten diperkirakan akan semakin menekan biaya operasional dan meningkatkan pasokan barang di masa mendatang.

Di sisi lain, kondisi pasar domestik Indonesia juga tengah menjadi sorotan seiring dengan dinamika kebijakan pemerintah. Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, menyatakan bahwa Peraturan Presiden mengenai transportasi daring sedang dipersiapkan untuk terbit sebelum HUT ke-81 RI.

Sementara itu, di lantai bursa, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,04% ke level 6.409 pada perdagangan Jumat (7/8). Kenaikan ini dipicu oleh aktivitas perdagangan di sejumlah saham besar dengan adanya transaksi crossing saham di emiten seperti MGLV, BNBR, BMRI, dan SMMA.