JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus berada dalam tekanan sepanjang tahun berjalan 2026. Meski demikian, para analis pasar modal menilai pelemahan tersebut lebih dipicu oleh kombinasi sentimen global dan domestik, bukan akibat kemerosotan fundamental ekonomi Indonesia.
Senior Analyst Bursa Efek Indonesia (BEI), Fikrian Naufal, menjelaskan bahwa pasar saat ini dibayangi oleh ketegangan geopolitik yang memanas. Konflik di Timur Tengah, khususnya gangguan pada jalur distribusi energi di Selat Hormuz, menjadi perhatian utama.
Selat Hormuz merupakan jalur vital yang menguasai sekitar 20% distribusi minyak dunia. Gangguan di kawasan tersebut berpotensi memicu lonjakan inflasi global yang dampaknya turut dirasakan secara langsung oleh ekonomi Indonesia.
Selain faktor geopolitik, pasar berkembang termasuk Indonesia masih tertekan oleh tingginya imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Amerika Serikat. Kondisi ini mendorong arus modal asing keluar (capital outflow) kembali ke negara maju.
Data mencatat, arus keluar dana asing sepanjang tahun ini telah mencapai sekitar Rp72 triliun. Tekanan tersebut sempat membawa IHSG terkoreksi ke kisaran level 6.200 pada akhir Juli 2026, setelah sebelumnya mencetak rekor tertinggi di angka 9.134,80 pada Januari 2026.
Di sisi domestik, pelaku pasar merespons sejumlah kebijakan strategis pemerintah dan risiko fiskal. Selain itu, Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan sebanyak 100 basis poin menjadi 5,75% sejak Mei hingga Juni 2026 guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Langkah moneter tersebut dinilai sebagai upaya yang diperlukan untuk menahan pelemahan mata uang. Meski berdampak pada pertumbuhan, kebijakan ini dipandang sebagai langkah krusial di tengah volatilitas pasar keuangan global.
Terlepas dari tekanan tersebut, fundamental ekonomi domestik dinilai tetap solid. Pertumbuhan ekonomi nasional masih terjaga di kisaran 5% dengan tingkat inflasi yang terkendali.
Indikator perbankan, seperti rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL), juga berada pada level yang relatif rendah. Ketahanan ekonomi nasional turut didukung oleh posisi cadangan devisa yang mencapai US$145,59 miliar per Juni 2026.
Kinerja emiten di Bursa Efek Indonesia juga menunjukkan tren positif berdasarkan laporan keuangan kuartal I-2026. Mayoritas perusahaan tercatat masih membukukan pertumbuhan laba yang signifikan di tengah tantangan ekonomi.
Valuasi saham saat ini dianggap berada pada level yang menarik atau relatif diskon akibat koreksi pasar yang terjadi. Kondisi ini dinilai sebagai peluang bagi investor untuk mencermati saham-saham dengan kinerja fundamental yang kuat.
Di sisi lain, aktivitas perdagangan di BEI justru menunjukkan peningkatan likuiditas. Nilai transaksi hingga Juli 2026 naik 24,6% secara year-to-date, sementara jumlah investor pasar modal telah menembus angka 30,06 juta orang.
Dominasi investor ritel yang menyumbang lebih dari 50% transaksi harian membuktikan bahwa pasar domestik tetap aktif. Tekanan yang terjadi saat ini dipastikan hanya bersifat jangka pendek dan didominasi oleh sentimen eksternal.






