Valuta

Rupiah Berpeluang Menguat Pekan Depan Usai Data NFP AS Melemah

45
×

Rupiah Berpeluang Menguat Pekan Depan Usai Data NFP AS Melemah

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS di layar monitor
Nilai tukar Rupiah menguat ke level Rp17.897 per dolar AS pada perdagangan Jumat, 7 Agustus 2026.

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat ke level Rp17.897 per dolar AS pada perdagangan Jumat (7/8/2026). Penguatan ini menandai tren positif mata uang Garuda yang sebelumnya berada di posisi Rp18.022 per dolar AS pada akhir pekan lalu, 31 Juli 2026.

Sentimen utama yang mendorong apresiasi rupiah adalah rilis data pasar tenaga kerja AS yang menunjukkan pelemahan signifikan. Data nonfarm payrolls (NFP) periode Juli 2026 tercatat minus 23.000, berbanding terbalik dengan pertumbuhan 57.000 pada Juni 2026.

Realisasi data yang lebih rendah dari perkiraan ini meningkatkan ekspektasi pasar terhadap potensi pelonggaran kebijakan moneter oleh bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed). Pelemahan pasar tenaga kerja AS secara otomatis mengurangi tekanan beli terhadap dolar AS.

Kondisi tersebut memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk mengalami pemulihan. Analis Komoditas dan Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, menyebut data tenaga kerja menjadi indikator krusial dalam menentukan arah kebijakan The Fed ke depan.

Selain faktor tenaga kerja, tekanan eksternal terhadap rupiah terpantau mulai mereda. Faktor pendukung lainnya meliputi koreksi indeks dolar AS, penurunan harga minyak dunia, serta meredanya ketegangan geopolitik yang sempat memanas di kawasan Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz.

Melihat dinamika tersebut, Wahyu memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif namun cenderung menguat pada perdagangan pekan depan. Mata uang domestik diprediksi berada dalam rentang Rp17.650 hingga Rp18.100 per dolar AS.

Untuk perdagangan Senin (10/8/2026), rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.800 hingga Rp18.000 per dolar AS. Area konsolidasi diproyeksikan akan berada di sekitar level Rp17.800 per dolar AS.

Pergerakan nilai tukar selama beberapa pekan terakhir memang menunjukkan volatilitas tinggi. Sebelumnya, rupiah sempat tertekan hingga menembus level Rp18.100 per dolar AS pada awal Juli lalu, dipicu oleh penguatan indeks dolar AS (DXY) dan ketidakpastian kondisi global.

Namun, dengan data NFP terbaru yang di bawah ekspektasi, pelaku pasar kini menanti langkah kebijakan lanjutan dari The Fed. Fokus pasar kini beralih pada bagaimana data ekonomi AS akan memengaruhi indeks dolar dalam jangka pendek.

Stabilitas rupiah ke depan akan sangat bergantung pada rilis data ekonomi AS selanjutnya serta perkembangan geopolitik global. Pelaku pasar diharapkan tetap mencermati setiap indikator ekonomi yang dirilis guna mengantisipasi perubahan tren di pasar valuta asing.