Tutup
Perbankan

Sultan HB X Restui 320 Ribu Meter Persegi Lahan Keraton Dibangun Tol

224
×

Sultan HB X Restui 320 Ribu Meter Persegi Lahan Keraton Dibangun Tol

Sebarkan artikel ini
sultan-hb-x-restui-320-ribu-meter-persegi-lahan-keraton-dibangun-tol
Sultan HB X Restui 320 Ribu Meter Persegi Lahan Keraton Dibangun Tol

Yogyakarta – Dua proyek jalan tol strategis di Yogyakarta, yakni Jalan Tol Yogyakarta-bawen dan Jalan Tol Solo-Yogyakarta-Kulon Progo, mendapatkan angin segar dengan disetujuinya pemanfaatan lahan seluas 320 ribu meter persegi dari Tanah Kasultanan (Sultan Ground/SG). Persetujuan ini ditandai dengan penyerahan Serat Kekancingan oleh Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, kepada Kementerian Pekerjaan Umum (PU) pada pekan lalu.

Serat Kekancingan, yang merupakan surat keputusan izin pemanfaatan hak atas tanah Kasultanan kepada pihak lain dalam jangka waktu tertentu, menjadi landasan kerja sama antara Keraton Yogyakarta, Direktorat Jenderal (Ditjen) Bina Marga, dan Badan usaha Jalan Tol (BUJT) dalam merealisasikan proyek infrastruktur tersebut.

Sri Sultan Hamengku Buwono X menjelaskan bahwa pemberian Serat Kekancingan merupakan langkah awal kemitraan. Ia menekankan bahwa sistem pemakaian SG untuk proyek jalan tol belum diputuskan. “Karena kan hakikatnya itu (SG) tidak dijual. Tapi bisa digunakan. Perkara dibayar atau tidak, urusan nanti. Yang penting jalan itu sudah selesai,” ujar Sultan di Sleman, DIY, Senin (21/7).

Sultan berharap jalan tol ini dapat memacu pertumbuhan ekonomi DIY. Ia juga mendorong pemerintah pusat membangun akses penyangga menuju dan dari Entry/Exit Tol agar pengguna jalan dapat berkontribusi ekonomi ke daerah. “Tapi kalau itu (jalan penyangga) tidak ada, berarti kita hanya menyaksikan lalu lintas kendaraan. Tapi tidak ada yang berhenti. Untuk apa? Tidak membantu pertumbuhan ekonomi,” ungkapnya. Ia menambahkan, “Itu yang kita desakan untuk ke pemerintah Pusat untuk membangun jalan-jalan yang bisa (menghubungkan) exit maupun masuk. Biar kabupaten, kota itu bisa menikmati pertumbuhan ekonomi.”

Direktur jenderal (Dirjen) Bina marga Roy Rizali Anwar menyampaikan bahwa penyerahan serat Kekancingan adalah simbol kehormatan, amanah budaya, dan kolaborasi antara negara dan Kasultanan.

Roy menjelaskan bahwa pembangunan kedua jalan tol ini akan memanfaatkan lebih dari 320 ribu meter persegi lahan SG, sesuai perjanjian kerja sama.Saat ini,konstruksi jalan tol sedang berlangsung. “Kami menyadari bahwa proses ini melibatkan aspek teknis, hukum, sosial, dan kultural yang sangat kompleks. Atas nama Kementerian PU dan secara khusus Ditjen Bina Marga, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengkubuwono X beserta seluruh Penghageng Karaton atas restu, dukungan, dan kelapangan hati dalam menyediakan tanah Kasultanan demi kemaslahatan rakyat,” tutur Roy.

Secara rinci, lahan Kasultanan Ngayogyakarta seluas 320 ribu meter persegi akan digunakan untuk pembangunan Jalan Tol Yogyakarta-Bawen seluas 75.440,75 meter persegi, terdiri dari 90 bidang tanah desa dan 8 bidang Sultan Ground. Sementara untuk pembangunan jalan tol solo-Yogyakarta-Kulon Progo, lahan yang digunakan seluas 245.302 meter persegi, terdiri dari 177 bidang tanah desa dan 17 bidang Sultan Ground.

Kepala badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Wilan Oktavian menjelaskan bahwa Jalan Tol Yogyakarta-Bawen memiliki panjang 75,12 kilometer (km) dan dibagi menjadi 6 seksi.Seksi-seksi tersebut meliputi Seksi 1 Yogyakarta-SS Banyurejo (8,8 km), Seksi 2 SS Banyurejo-Borobudur (15,2 km), Seksi 3 Borobudur-SS Magelang (8,1 km), Seksi 4 SS Magelang-SS Temanggung (16,65 km), seksi 5 SS Temanggung-SS Ambarawa (21,39 km), dan seksi 6 SS Ambarawa-JC Bawen (4,98 km).

Wilan menambahkan bahwa pembangunan Jalan Tol Solo-Yogyakarta-Kulon Progo dibagi menjadi 3 tahap. Tahap 1, ruas tol Kartasura-Klaten, telah beroperasi, sementara ruas Klaten-Prambanan sudah beroperasi namun belum bertarif. Untuk ruas Prambanan-Purwomartani, progres fisik konstruksi telah mencapai 78,93 persen. Ruas Purwomartani-Maguwo dan JC. Sleman-Trihanggo masih dalam proses pembangunan. “Untuk tahap 2 dan 3, masih dalam proses pembebasan lahan, ruas tol Solo-Yogyakarta-Kulonprogro direncanakan operasi pada tahun 2028,” terang Wilan.