Tutup
Regulasi

Akuisisi Aset Tambang: Emiten Diprediksi Agresif di 2026

493
×

Akuisisi Aset Tambang: Emiten Diprediksi Agresif di 2026

Sebarkan artikel ini

Jakarta – Gelombang akuisisi perusahaan tambang diperkirakan akan marak dilakukan oleh emiten sektor pertambangan pada tahun 2026. Ekspansi anorganik ini menjadi opsi menarik di tengah tren transisi energi global.

Beberapa perusahaan terbuka telah mengumumkan rencana untuk mengakuisisi aset tambang. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), misalnya, tengah menjajaki akuisisi tambang emas melalui penugasan pemerintah atau pembelian saham minoritas di perusahaan patungan. ANTM juga mengincar aset tambang di luar negeri, seperti Timur Tengah dan Kazakhstan.

PT Darma Henwa Tbk (DEWA) juga tidak ketinggalan. Manajemen DEWA sedang melakukan kajian dan mitigasi risiko terkait rencana akuisisi tambang.

Sementara itu, PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) memperpanjang tenggat waktu rencana akuisisi saham PT J Resources Nusantara (JRN) di dalam PT Arafura Surya Alam (ASA), pengelola Tambang Emas Doup, kepada PT Danusa Tambang Nusantara (DTN), anak usaha PT United Tractors Tbk (UNTR), hingga 23 Maret 2026.

Analis Fundamental BRI Danareksa, Abida Massi Armand, memprediksi aktivitas akuisisi akan semakin ramai pada 2026, terutama untuk komoditas mineral kritis dan emas. Hal ini sejalan dengan diversifikasi emiten batu bara untuk menyelaraskan portofolio dengan tren transisi energi.

Emiten dinilai lebih memilih akuisisi dibandingkan eksplorasi *greenfield* karena menawarkan kepastian cadangan terbukti, efisiensi waktu menuju produksi (*time-to-market*), serta kontribusi cepat terhadap arus kas perusahaan.

“Keuntungan utamanya adalah eliminasi risiko kegagalan eksplorasi geologi dan kemudahan integrasi aset ke dalam struktur operasional yang sudah ada,” jelas Abida.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menambahkan bahwa akuisisi tambang memberikan emiten kesempatan untuk mendapatkan cadangan baru secara instan tanpa terhambat perizinan yang kompleks.

Wafi meyakini *capital expenditure (capex)* emiten yang berencana akuisisi tambang akan meningkat pada 2026. Namun, hal ini bukan masalah karena emiten yang siap mengakuisisi umumnya memiliki arus kas yang kuat.

Akuisisi tambang juga mendorong emiten untuk memanfaatkan berbagai sumber pendanaan, seperti pinjaman perbankan, penerbitan obligasi, hingga *rights issue*.

“Jadi, likuiditas bukan isu, karena tantangannya ada pada mencari aset baru yang tersedia untuk dibeli,” kata Wafi.

Di tengah tren akuisisi tambang, emiten perlu mewaspadai tantangan multidimensional, terutama terkait kepatuhan regulasi seperti akurasi data dalam sistem RKAB tiga tahunan dan aspek hukum pengalihan Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang kompleks. Implementasi standar *Environmental, Social, and Governance* (ESG) juga menjadi tantangan krusial.

“Selain itu, risiko fluktuasi harga komoditas akibat potensi kelebihan pasokan di pasar global juga menuntut ketepatan waktu akuisisi agar aset yang dibeli tetap memberikan nilai ekonomi yang optimal bagi pemegang saham,” terang Abida.

Abida memberikan rekomendasi positif untuk emiten yang berencana mengakuisisi, dengan target harga ANTM di level Rp 4.100 per saham dan UNTR di Rp 32.000 per saham.

Wafi merekomendasikan investor untuk memantau saham UNTR, ANTM, PSAB, dan DEWA dengan target harga masing-masing di level Rp 32.000 per saham, Rp 4.000 per saham, Rp 720 per saham, dan Rp 700 per saham.

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan Kamis (16/4/2026), sejalan dengan sentimen positif dari bursa global. Berdasarkan data RTI pukul 09.07 WIB, IHSG naik 1,04% atau 79,284 poin ke level 7.702,870. Sebanyak 393 saham menguat, 135 saham melemah, dan 176 saham bergerak stagnan. Volume perdagangan tercatat mencapai 3,9 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 1,6 triliun. Baca Juga: Rupiah Dibuka…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Harga emas batangan bersertifikat Antam keluaran Logam Mulia PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) turun pada Kamis (16/4/2026). Mengutip situs Logam Mulia, harga pecahan satu gram emas Antam berada di Rp 2.888.000. Harga emas Antam itu turun Rp 5.000 jika dibandingkan dengan harga pada Rabu (15/4/2026) yang berada di level Rp 2.893.000 per gram. Sementara harga buyback emas Antam berada di level Rp 2.674.000 per gram. Harga…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL) menganggarkan belanja modal alias capital expenditure (capex) sekitar US$ 2,1 juta pada tahun 2026. Dana ini difokuskan untuk mendukung peningkatan operasional pabrik sekaligus menjaga daya saing Latinusa di tengah kondisi pasar yang masih menantang. Dari total anggaran tersebut, alokasi capex akan digunakan untuk machinery & equipment sebesar US$ 1,8 juta dan supporting equipment…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Di tengah meningkatnya volatilitas pasar keuangan, sejumlah emiten dengan arus kas kuat semakin agresif melakukan aksi korporasi berupa pembelian kembali atau buyback saham. Langkah ini dinilai menjadi salah satu strategi untuk menjaga stabilitas harga saham sekaligus mencerminkan keyakinan manajemen terhadap fundamental perusahaan. Deretan Emiten Lakukan Buyback Saham Terbaru, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP)…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Jangan lewatkan dividen saham bernilai jumbo dari anak usaha Astra. Yield dividen saham ini mencapai 12% lebih. Anak usaha Astra yang akan bayar dividen jumbo ini adalah PT Astra Graphia Tbk (ASGR). Pembayaran dividen ini diputuskan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2025. Adapun RUPST PT Astragraphia digelar di Catur Dharma Hall, Menara Astra, Jakarta, Rabu (15/4/2026). Besaran dividen saham ASGR sebanyak…