Regulasi

Pengusaha Dorong Tarif Nol Persen untuk Alas Kaki: Ini Alasannya!

376
×

Pengusaha Dorong Tarif Nol Persen untuk Alas Kaki: Ini Alasannya!

Sebarkan artikel ini

Jakarta – Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) gencar mendukung upaya pemerintah dalam menekan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) untuk produk alas kaki. Mereka berharap tarif tersebut dapat ditekan hingga di bawah 19 persen, bahkan idealnya mencapai 0 persen.

“Tarif resiprokal ke AS diupayakan lebih rendah, mencapai 0 persen atau harus jauh di bawah angka saat ini, yaitu 19 persen,” tegas Direktur Eksekutif Asprisindo, Yoseph Billie Dosiwoda, dalam keterangan tertulis (3/1/2026).

Aprisindo mendesak agar tarif yang dikenakan AS terhadap produk alas kaki Indonesia lebih rendah dibandingkan negara pesaing seperti Vietnam, Kamboja, Pakistan, Bangladesh, India, dan Cina. Yoseph memaparkan beberapa alasan mendesak di balik permintaan tersebut.

Pertama, terkait pengupahan. Yoseph mencontohkan Vietnam yang tidak menaikkan upah pekerja selama dua tahun terakhir. Alasan kedua adalah tingginya biaya produksi di Indonesia, termasuk harga listrik dan gas, impor bahan baku, sertifikasi mesin, hingga Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

Selain itu, Aprisindo juga menyoroti potensi perluasan pasar di luar AS. Perjanjian dagang antara Indonesia dan negara lain, seperti IEU-CEPA, yang memberikan bebas tarif impor, namun belum berlaku hingga 2027, menjadi perhatian khusus.

Yoseph berharap pemerintah dapat melindungi industri alas kaki dalam negeri agar mampu bersaing secara kompetitif di pasar global. Ia menggambarkan dampak negatif ketika tarif Trump sebesar 19 persen diberlakukan pada 7 Agustus 2025.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekspor alas kaki ke Amerika Serikat pada periode Agustus-September 2025 turun menjadi 23,14 persen. “Dampak tarif masuk ke AS menyebabkan penurunan pesanan,” jelas Yoseph.

Penurunan pesanan ini, lanjut Yoseph, mengancam produktivitas dan berpotensi menyebabkan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Ia menekankan bahwa ancaman PHK sangat dihindari oleh pelaku industri alas kaki, meskipun sudah terjadi di sektor lain seperti tekstil.

Oleh karena itu, Yoseph menegaskan, tarif resiprokal yang lebih rendah dari negara pesaing sangat dibutuhkan untuk menyelamatkan produktivitas, menjaga serapan tenaga kerja, dan menghindari terjadinya *sunset industry*.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menargetkan kesepakatan tarif dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat dapat diselesaikan pada awal 2026.

Airlangga menyatakan bahwa Presiden Prabowo dan Presiden AS Donald Trump diharapkan dapat menandatangani dokumen *Agreement on Reciprocal Tariff* (ART) pada akhir Januari 2026.

“Saat ini pihak Amerika sedang mengatur waktu yang tepat untuk rencana pertemuan antara kedua pemimpin tersebut,” ujar Airlangga dalam konferensi pers daring dari Washington, D.C., Amerika Serikat, pada Senin, 3 Desember 2025. Perkembangan ini dilaporkan Airlangga setelah bertemu dengan Ambassador Jamieson Greer dari United States Trade Representative (USTR).

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com Jakarta.Pasar saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak di zona hijau pada awal Juni 2026. Investor perlu mencermati sejumlah saham berikut yang akan cum dividen mulai hari ini, Rabu 3 Juni 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa 2 Juni 2026 ditutup di level 6.195,43 naik 1,11% atau 68,05 poin secara harian. Kenaikan ini merupakan awal yang positif karena pada Mei 2026, IHSG tertekan hingga turun tajam,…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bangkit pada awal Juni 2026 setelah mengalami tekanan pada penghujung Mei. Pada penutupan perdagangan Selasa (2/6/2026), IHSG menguat 1,11% atau naik 67,85 poin ke level 6.195,42. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dihimpun RTI, pergerakan IHSG sepanjang hari berada di zona hijau. Baca Juga: SumbarSumbarbisnis.com Sell Rp 518 Miliar Saat IHSG Menguat, Cek SumbarSumbarbisnis.com Sell…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. PT Surya Pertiwi Tbk (SPTO) menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp 189 miliar atau setara 62,6% dari laba bersih tahun buku 2025. Keputusan ini telah disepakati perusahaan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada hari ini, Selasa (2/6/2026). Dividen tunai tersebut akan dibagikan kepada para pemegang saham yaitu sebanyak 2,7 miliar saham, sehingga setiap saham akan memperoleh dividen tunai sebesar Rp…