Regulasi

Net Sell Asing 2025: Saham Favorit & Peluang Rebound 2026

692
×

Net Sell Asing 2025: Saham Favorit & Peluang Rebound 2026

Sebarkan artikel ini

Jakarta – Investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp 17,34 triliun sepanjang tahun 2025. Meskipun demikian, sejumlah saham justru menjadi incaran di tengah derasnya arus modal keluar.

Berdasarkan data RTI, saham PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) menjadi yang paling banyak diborong investor asing dengan nilai net buy mencapai Rp 8,18 triliun. Diikuti oleh PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dengan net buy sebesar Rp 7,44 triliun.

Selain itu, investor asing juga mengakumulasi saham PT Astra International Tbk (ASII), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dengan nilai net buy masing-masing sebesar Rp 6,46 triliun, Rp 5,93 triliun, dan Rp 5,77 triliun.

Sebaliknya, saham-saham perbankan justru banyak dilepas oleh investor asing. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat nilai net sell terbesar, mencapai Rp 30,03 triliun.

Selanjutnya, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga mencatatkan net sell oleh investor asing masing-masing sebesar Rp 16,98 triliun dan Rp 14,75 triliun.

Saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) juga mengalami net sell sebesar Rp 5,52 triliun, diikuti oleh PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dengan net sell Rp 5,04 triliun.

Analis Investasi Infovesta Kapital Advisory, Ekky Topan, berpendapat bahwa saham-saham yang menjadi favorit investor asing di tahun 2025 berpotensi kembali dilirik, terutama emiten yang memiliki potensi pertumbuhan.

Ia mencermati adanya pergeseran pola akumulasi asing. Jika sebelumnya asing cenderung defensif dan berinvestasi di saham-saham besar, kini mulai terlihat minat pada emiten dengan cerita pertumbuhan yang kuat.

“Akumulasi asing pada saham berbasis ‘story’ ini sering kali bersifat taktis dan jangka pendek, sehingga ada kemungkinan posisi tersebut dilepas dengan cepat ketika target tercapai atau sentimen berubah,” ujarnya.

Customer Engagement & Market Analyst Department Head BRI Danareksa Sekuritas, Chory Agung Ramdhani, menyoroti bahwa saham-saham seperti IMPC, AMMN, ANTM, BREN, NCKL, dan BRMS mencerminkan minat asing pada sektor hilirisasi mineral dan energi terbarukan, yang menjadi fokus utama pada tahun 2025.

Menurutnya, saham berbasis komoditas mineral emas dan tembaga masih memiliki peluang besar untuk kembali diborong asing, didorong oleh harga emas yang diperkirakan tetap tinggi dan permintaan tembaga untuk kebutuhan industri hijau global.

“Catatan untuk BREN dan IMPC, saham-saham ini sudah reli sangat tinggi. Di tahun 2026, asing mungkin akan lebih selektif. Potensi net buy tetap ada, tetapi intensitasnya mungkin berkurang,” kata Chory.

Chory menambahkan bahwa masuknya investor asing ke saham telekomunikasi dan otomotif di akhir tahun 2025 menunjukkan antisipasi pemulihan konsumsi. Jika suku bunga turun secara konsisten, saham-saham ini berpotensi menjadi pilihan utama asing karena fundamental yang undervalued.

Potensi di 2026

Chory menilai bahwa fenomena net sell pada saham-saham perbankan besar (BBCA, BBRI, BMRI, BBNI) dan konsumer (ICBP, KLBF) sepanjang tahun 2025 lebih disebabkan oleh strategi rebalancing portofolio asing, bukan karena fundamental yang melemah.

Ia optimis akan terjadi pembalikan arah masif (net buy) pada saham-saham perbankan besar di awal tahun 2026, didorong oleh sentimen dividend hunting oleh pelaku pasar.

“Dengan laba tahun 2025 yang diproyeksikan tetap tumbuh solid, asing tidak akan mau melewatkan yield dividen yang menarik di awal tahun ini,” ucap Chory.

Chory juga memproyeksikan saham konsumer akan kembali menjadi incaran asing sebagai aset defensif jika volatilitas global meningkat, ditambah dengan sentimen perbaikan daya beli domestik tahun ini.

“Untuk sektor ini, asing mungkin masih akan cenderung wait and see atau tetap net sell terbatas karena adanya transisi global ke energi hijau, sehingga pergerakannya akan sangat bergantung pada harga batu bara harian,” katanya.

Senada dengan Chory, Ekky menyebutkan bahwa saham-saham yang mencatatkan net sell besar sepanjang tahun 2025 justru membuka peluang pembalikan di tahun 2026. Menurutnya, saham seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI mengalami tekanan jual asing lebih karena faktor makro.

“Memasuki 2026, dengan ekspektasi suku bunga yang lebih rendah dan stabilisasi kondisi makro, bank-bank besar justru berpeluang kembali menjadi target akumulasi asing,” ucapnya.

Ekky menilai bahwa di antara keempat saham perbankan jumbo tersebut, BMRI dan BBRI terlihat paling menarik karena valuasinya sudah relatif murah secara historis dan memiliki leverage paling besar terhadap pemulihan pertumbuhan kredit.

Menurutnya, dari saham-saham yang dibeli maupun dijual asing, ada sejumlah saham yang masih layak dicermati, yakni BMRI dan BBRI untuk tema rebound sektor perbankan.

Kemudian, UNTR dan ANTM untuk eksposur komoditas yang lebih defensif dan berarus kas kuat, serta AMMN bagi investor dengan profil risiko lebih agresif yang membidik pertumbuhan jangka menengah.

“TLKM dan ASII juga menarik untuk dipantau sebagai kandidat re-entry asing, terutama jika ada katalis nyata berupa perbaikan kinerja inti dan efisiensi,” kata Ekky.

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com Jakarta.Pasar saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak di zona hijau pada awal Juni 2026. Investor perlu mencermati sejumlah saham berikut yang akan cum dividen mulai hari ini, Rabu 3 Juni 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa 2 Juni 2026 ditutup di level 6.195,43 naik 1,11% atau 68,05 poin secara harian. Kenaikan ini merupakan awal yang positif karena pada Mei 2026, IHSG tertekan hingga turun tajam,…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bangkit pada awal Juni 2026 setelah mengalami tekanan pada penghujung Mei. Pada penutupan perdagangan Selasa (2/6/2026), IHSG menguat 1,11% atau naik 67,85 poin ke level 6.195,42. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dihimpun RTI, pergerakan IHSG sepanjang hari berada di zona hijau. Baca Juga: SumbarSumbarbisnis.com Sell Rp 518 Miliar Saat IHSG Menguat, Cek SumbarSumbarbisnis.com Sell…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. PT Surya Pertiwi Tbk (SPTO) menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp 189 miliar atau setara 62,6% dari laba bersih tahun buku 2025. Keputusan ini telah disepakati perusahaan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada hari ini, Selasa (2/6/2026). Dividen tunai tersebut akan dibagikan kepada para pemegang saham yaitu sebanyak 2,7 miliar saham, sehingga setiap saham akan memperoleh dividen tunai sebesar Rp…