Tutup
Regulasi

Saham Saudi Anjlok: Risiko Geopolitik Tekan Pasar Modal

205
×

Saham Saudi Anjlok: Risiko Geopolitik Tekan Pasar Modal

Sebarkan artikel ini

Jakarta – Pasar saham Arab Saudi mengalami penurunan tajam pada perdagangan Minggu (4/12/2025) waktu setempat. Kekhawatiran investor terhadap dampak ketegangan geopolitik di Yaman, Iran, dan Venezuela menjadi pemicu utama.

Penurunan ini menjadi yang terdalam dalam hampir sembilan bulan terakhir.

Indeks acuan Tadawul All Share Index anjlok 1,8%, penurunan terbesar sejak gejolak pasar global akibat kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada April 2025. Data ini dilansir oleh *Bloomberg* pada Minggu malam.

Pada penutupan perdagangan, seluruh sektor industri di bursa Arab Saudi berada di zona merah. Indeks juga mencatatkan level terendah sejak Oktober 2023.

Sementara itu, di kawasan Teluk lainnya, pasar cenderung lebih stabil. Bursa saham Qatar, Oman, dan Bahrain mencatatkan penguatan tipis.

Tekanan terhadap pasar Arab Saudi muncul seiring seruan Riyadh kepada faksi-faksi selatan Yaman untuk berunding di ibu kota Arab Saudi. Bentrokan terus berlanjut antara pasukan yang didukung Saudi dan kelompok separatis yang didukung Uni Emirat Arab.

Di sisi lain, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menepis gelombang protes dengan menyebutnya dipicu oleh kekuatan eksternal.

“Pelemahan pasar Saudi saat ini mencerminkan isu geopolitik regional, meski belum ada indikasi konfrontasi atau eskalasi, khususnya terkait Yaman,” kata Junaid Ansari, kepala riset dan strategi di Kamco Investment Co.

Menurutnya, situasi di Iran turut membebani sentimen dan meningkatkan premi risiko geopolitik di kawasan.

Ansari menambahkan, dampak terhadap saham dari potensi gangguan pasar minyak akibat kejatuhan Presiden Venezuela Nicolás Maduro baru akan terasa mulai Senin (5/12/2025), saat perdagangan minyak mentah dibuka kembali.

Secara fundamental, pasar saham Arab Saudi masih dibayangi kinerja tahunan terburuk sejak 2015. Harga minyak yang relatif lemah dinilai membatasi belanja publik dan menahan pertumbuhan laba korporasi.

Prospek kinerja pasar pada 2026 masih beragam. Sejumlah analis melihat potensi penguatan dari pelonggaran batas kepemilikan asing, sementara yang lain menilai pasar masih kekurangan momentum untuk berbalik arah secara berkelanjutan.