Tutup
Regulasi

Dolar AS Menguat di 2026: Investor Pantau Kebijakan The Fed

170
×

Dolar AS Menguat di 2026: Investor Pantau Kebijakan The Fed

Sebarkan artikel ini

Jakarta – Dolar Amerika Serikat (AS) mengawali tahun 2026 dengan menunjukkan taringnya. Mata uang Paman Sam ini bangkit dari tekanan tahun sebelumnya, seiring pelaku pasar menanti data ekonomi penting yang akan memengaruhi kebijakan The Federal Reserve (The Fed).

Penguatan dolar terjadi setelah sepanjang tahun 2025 tertekan hingga lebih dari 9 persen, menjadi penurunan tahunan terdalam sejak 2017.

Pemicunya adalah menyempitnya selisih suku bunga AS dengan negara lain, kekhawatiran fiskal AS, perang dagang global, dan isu independensi The Fed. Risiko-risiko ini masih membayangi di tahun 2026.

Pekan depan, pasar akan dipenuhi data ekonomi, dengan laporan ketenagakerjaan AS menjadi sorotan utama. Data ini akan menjadi sinyal apakah The Fed akan melanjutkan pemangkasan suku bunga.

Saat ini, pasar memproyeksikan dua kali penurunan suku bunga, lebih agresif dari proyeksi satu kali pemangkasan dari bank sentral.

“Ini akan menjadi waktu untuk melakukan banyak penilaian, kita tidak akan mengadakan pertemuan Fed sampai akhir bulan, tetapi belum ada konsensus,” kata Juan Perez, Direktur Perdagangan di Monex USA di Washington.

Perez menambahkan penutupan pemerintahan AS yang baru-baru ini adalah peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya dan berlangsung sangat lama. Hal ini memengaruhi cara data dikumpulkan, diinterpretasikan, dan diukur.

Perdagangan relatif sepi karena pasar Jepang dan China tutup pada hari yang sama. Indeks dolar yang mencerminkan kekuatan dolar AS terhadap beberapa mata uang utama naik 0,24 persen ke level 98,48. Sementara itu, euro melemah 0,25 persen ke level USD 1,1716.

Aktivitas manufaktur zona euro pada Desember turun ke titik terendah dalam sembilan bulan. Meski demikian, euro sepanjang 2025 melonjak lebih dari 13 persen, menjadi kenaikan tahunan terbesar sejak 2017.

Poundsterling juga terkoreksi 0,18 persen ke USD 1,3445, setelah menguat 7,7 persen sepanjang 2025, juga lonjakan tahunan tertinggi sejak 2017.

Investor juga menantikan rencana Presiden AS Donald Trump menunjuk ketua The Fed berikutnya. Masa jabatan Jerome Powell berakhir pada Mei mendatang dan Trump berencana mengumumkan pilihannya bulan ini.

Pelaku pasar menilai kandidat pilihan Trump berpotensi mendorong lebih banyak pemangkasan suku bunga, mengingat kritiknya terhadap Powell dan The Fed yang dinilai terlalu lambat menurunkan biaya pinjaman.

Pasar sepenuhnya memperkirakan dua kali pemotongan suku bunga tahun ini, lebih banyak dari satu kali pemangkasan yang diproyeksikan oleh Dewan Gubernur The Fed saat ini.

“Kami memperkirakan kekhawatiran seputar independensi bank sentral akan berlanjut hingga tahun 2026, dan melihat perubahan kepemimpinan Fed yang akan datang sebagai salah satu dari beberapa alasan mengapa risiko seputar perkiraan suku bunga dana Fed kami cenderung dovish,” kata para ahli strategi Goldman dalam sebuah catatan kepada klien.

Di Asia, yen Jepang melemah 0,16 persen ke level 156,91 per dolar AS, setelah hanya menguat kurang dari 1 persen sepanjang 2025. Nilai tukar yen masih berada dekat level terendah 10 bulan di 157,89 yang tercapai pada November, memicu perhatian pembuat kebijakan dan spekulasi potensi intervensi Bank Sentral Jepang (BOJ).

BOJ tercatat telah menaikkan suku bunga dua kali tahun lalu, namun langkah tersebut belum banyak menopang yen karena investor menilai kebijakan moneter Jepang belum cukup agresif. Data LSEG menunjukkan pasar belum melihat peluang lebih dari 50 persen untuk kenaikan suku bunga BOJ berikutnya hingga Juli.