Padang – Pemerintah provinsi sumatera Barat (Sumbar) berkomitmen mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi melalui skema investasi padat karya. Langkah ini diambil untuk memastikan setiap investasi yang masuk memberikan dampak nyata bagi penyerapan tenaga kerja dan kesejahteraan masyarakat.
Wakil Gubernur Sumbar, Vasko Ruseimy, menyampaikan hal tersebut dalam Musrenbang RKPD Provinsi Sumbar Tahun 2027 di Auditorium Gubernuran, Rabu (8/4/2026).Ia menegaskan bahwa investasi tidak boleh hanya berfokus pada pembangunan fisik semata.
“Setiap investasi yang masuk ke Sumatera Barat harus memberikan efek nyata, tidak hanya membangun fisik, tetapi juga menyerap tenaga kerja secara masif dan memperkuat ekonomi masyarakat,” ujar Vasko.
Strategi investasi Sumbar ke depan bertumpu pada empat pilar utama. Pertama, penguatan infrastruktur dan konektivitas, seperti pembangunan Jalan tol padang-pekanbaru, Fly Over Sitinjau Lauik, serta peningkatan jalur perdagangan Bukittinggi-Payakumbuh.kedua,pengembangan sektor maritim melalui optimalisasi Pelabuhan Teluk Tapang sebagai simpul distribusi komoditas unggulan.Ketiga, penguatan energi terbarukan dengan fokus pada potensi panas bumi. Keempat, pengembangan sektor pariwisata berkelanjutan di Kawasan Mandeh dan Kepulauan Mentawai.
Vasko menyoroti dua proyek prioritas, yakni pengembangan geothermal dengan potensi 165 MWe dan pembangunan Jalan Tol Padang-Pekanbaru sepanjang 255 kilometer. Selain itu, pembangunan Fly Over Sitinjau Lauik melalui skema KPBU dinilai krusial untuk menekan biaya logistik dan meningkatkan keselamatan transportasi.
Menurut Vasko, keberhasilan investasi sangat bergantung pada kepastian dan kemudahan yang diberikan pemerintah. ia meminta kepala daerah bertindak layaknya CEO yang proaktif, solutif, dan mendampingi investor.”Daerah yang ramah investasi adalah daerah yang bergerak cepat,responsif,dan mampu menyelesaikan persoalan di lapangan. Pemerintah kabupaten/kota harus menjemput peluang dan memastikan kesiapan lahan,” tegasnya.
Untuk mendukung iklim investasi, Pemprov Sumbar terus melakukan transformasi birokrasi melalui sistem digital OSS. Langkah ini bertujuan menciptakan perizinan yang cepat, transparan, dan bebas dari tumpang tindih regulasi.
Vasko menambahkan, tahun 2027 menjadi momentum krusial sebagai titik balik pertumbuhan investasi di Sumatera Barat. Ia optimistis portofolio strategis yang disusun akan menjadi pengungkit ekonomi daerah dalam jangka panjang.Padang – Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) berkomitmen mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi melalui skema investasi padat karya. Langkah ini diambil untuk memastikan setiap investasi yang masuk memberikan dampak nyata bagi penyerapan tenaga kerja dan kesejahteraan masyarakat.
Wakil Gubernur Sumbar, Vasko Ruseimy, menyampaikan hal tersebut dalam musrenbang RKPD Provinsi sumbar Tahun 2027 di Auditorium Gubernuran, Rabu (8/4/2026). Ia menegaskan bahwa investasi tidak boleh hanya berfokus pada pembangunan fisik semata.
“Setiap investasi yang masuk ke sumatera barat harus memberikan efek nyata, tidak hanya membangun fisik, tetapi juga menyerap tenaga kerja secara masif dan memperkuat ekonomi masyarakat,” ujar Vasko.
Strategi investasi Sumbar ke depan bertumpu pada empat pilar utama. Pertama, penguatan infrastruktur dan konektivitas, seperti pembangunan jalan tol padang-Pekanbaru, Fly Over Sitinjau Lauik, serta peningkatan jalur perdagangan Bukittinggi-Payakumbuh.
Kedua,pengembangan sektor maritim melalui optimalisasi Pelabuhan Teluk Tapang sebagai simpul distribusi komoditas unggulan. Ketiga, penguatan energi terbarukan dengan fokus pada potensi panas bumi. keempat, pengembangan sektor pariwisata berkelanjutan di Kawasan Mandeh dan Kepulauan Mentawai.
vasko menyoroti dua proyek prioritas, yakni pengembangan geothermal dengan potensi 165 MWe dan pembangunan Jalan Tol Padang-Pekanbaru sepanjang 255 kilometer. Selain itu, pembangunan Fly Over Sitinjau Lauik melalui skema KPBU dinilai krusial untuk menekan biaya logistik dan meningkatkan keselamatan transportasi.Menurut Vasko, keberhasilan investasi sangat bergantung pada kepastian dan kemudahan yang diberikan pemerintah. Ia meminta kepala daerah bertindak layaknya CEO yang proaktif, solutif, dan mendampingi investor.
“daerah yang ramah investasi adalah daerah yang bergerak cepat, responsif, dan mampu menyelesaikan persoalan di lapangan. Pemerintah kabupaten/kota harus menjemput peluang dan memastikan kesiapan lahan,” tegasnya.
Untuk mendukung iklim investasi, Pemprov Sumbar terus melakukan transformasi birokrasi melalui sistem digital OSS. Langkah ini bertujuan menciptakan perizinan yang cepat, transparan, dan bebas dari tumpang tindih regulasi.
Vasko menambahkan, tahun 2027 menjadi momentum krusial sebagai titik balik pertumbuhan investasi di Sumatera Barat. Ia optimistis portofolio strategis yang disusun akan menjadi pengungkit ekonomi daerah dalam jangka panjang.







