Jakarta – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar kebijakan sosial, melainkan mesin pertumbuhan ekonomi baru yang mampu mengubah lanskap bisnis di daerah.
Executive Director Kadin Indonesia Institute, Mulya Amri, menegaskan bahwa program ini telah memberikan dampak positif yang nyata bagi sektor riil. Menurutnya, MBG berhasil menggerakkan roda ekonomi lokal secara signifikan.
“Dulu sebelum program MBG dimulai, stok ayam dan telur kita berlebih. Sekarang justru kekurangan, hingga harga telur jadi lebih mahal. Kita sedang memacu produksi lebih banyak lagi,” ujar Mulya, Jumat (10/4/2026).
Mulya menambahkan, kondisi ini menjadi peluang emas bagi para peternak ayam dan petani sayur di daerah. Kadin Institute pun mendorong para pengusaha lokal untuk segera melakukan transformasi agar dapat menangkap berkah ekonomi dari program tersebut.
Dampak positif program ini salah satunya dirasakan oleh Benedictus Dalupe, peternak ayam petelur di Kadi Pada, Kota Tambolaka, sumba Barat Daya. Sejak program MBG berjalan,usahanya mengalami perkembangan pesat.
“Kami menjadi salah satu pemasok bahan baku telur untuk dapur MBG di Kecamatan Kota Tambolaka. Saat ini kami masih dalam tahap pengembangan dan mampu menyuplai secara rutin ke satu dapur,” ungkap Benedictus.
Dalam operasionalnya, Benedictus menyuplai sekitar 20-25 ikat telur atau lebih dari 3.000 butir dalam sekali kirim. pengiriman dilakukan secara rutin sebanyak tiga kali dalam seminggu, yakni pada hari Minggu, Selasa, dan kamis.Jakarta – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar kebijakan sosial,melainkan mesin pertumbuhan ekonomi baru yang mampu mengubah lanskap bisnis di daerah.
Executive Director Kadin Indonesia Institute, Mulya Amri, menegaskan bahwa program ini telah memberikan dampak positif yang nyata bagi sektor riil. Menurutnya, MBG berhasil menggerakkan roda ekonomi lokal secara signifikan.”Dulu sebelum program MBG dimulai,stok ayam dan telur kita berlebih. Sekarang justru kekurangan, hingga harga telur jadi lebih mahal.Kita sedang memacu produksi lebih banyak lagi,” ujar Mulya, Jumat (10/4/2026).
Mulya menambahkan, kondisi ini menjadi peluang emas bagi para peternak ayam dan petani sayur di daerah. Kadin Institute pun mendorong para pengusaha lokal untuk segera melakukan transformasi agar dapat menangkap berkah ekonomi dari tingginya permintaan bahan pangan tersebut.Dampak nyata program ini salah satunya dirasakan oleh Benedictus Dalupe, peternak ayam petelur di Kadi Pada, Kota Tambolaka, Sumba Barat Daya. Sejak program MBG berjalan, usahanya mengalami perkembangan pesat.
“Kami menjadi salah satu pemasok bahan baku telur untuk dapur MBG di Kecamatan Kota Tambolaka. Saat ini kami masih dalam tahap pengembangan dan mampu menyuplai secara rutin ke satu dapur,” ungkap Benedictus.
Dalam operasionalnya, Benedictus menyuplai sekitar 20-25 ikat telur atau lebih dari 3.000 butir dalam sekali kirim. Pengiriman dilakukan secara rutin sebanyak tiga kali dalam seminggu, yakni pada hari Minggu, Selasa, dan Kamis.







