Jakarta – Goldman Sachs melalui divisi manajemen asetnya berencana meluncurkan exchange-traded fund (ETF) Bitcoin pertama mereka. Rencana tersebut tertuang dalam dokumen pengajuan kepada Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (SEC) pada Selasa (14/4).
Produk ETF ini dirancang untuk memberikan eksposur terhadap harga Bitcoin sekaligus menghasilkan pendapatan dari transaksi opsi Bitcoin. Langkah Goldman Sachs ini menyusul jejak pesaingnya, Morgan Stanley, yang sebelumnya telah memperkenalkan Morgan Stanley Bitcoin Trust ETF.
Meski dokumen pengajuan belum merinci biaya yang diusulkan, produk ini diprediksi meluncur pada akhir Juni mendatang. Peluncuran ini menjadi pengajuan ETF pertama Goldman Sachs setelah merampungkan akuisisi senilai US$2 miliar terhadap Innovator Capital Management awal bulan ini.
Innovator sendiri dikenal sebagai pelopor pengembangan ETF berbasis opsi dan peluncur buffer ETF pertama di Amerika Serikat pada 2018.
Langkah raksasa keuangan ini dilakukan di tengah tekanan pasar kripto dalam beberapa bulan terakhir. Pelemahan harga dipicu oleh penurunan sentimen risiko, volatilitas logam mulia, aksi jual saham teknologi, hingga konflik geopolitik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran.
Analis ETF dari Morningstar, Bryan Armour, menilai penambahan pendapatan dari opsi ke dalam produk ini memang menarik. Namun, ia mengingatkan bahwa produk tersebut akan sulit dipasarkan karena volatilitas tinggi dan risiko penurunan harga yang masih membayangi investor.
Saat ini, harga Bitcoin telah terkoreksi hampir 15 persen sepanjang tahun menjadi US$74.591. Angka tersebut terpaut sekitar 40 persen di bawah rekor tertinggi sepanjang masa di level US$126.223 yang dicapai pada Oktober lalu.
Di sisi lain, pertumbuhan aset kelolaan ETF kripto cenderung melambat dan tidak stabil. Data ETF.com mencatat,sejumlah produk seperti Grayscale Bitcoin Covered Call ETF dan Global X Bitcoin Covered Call ETF bahkan mengalami arus keluar.







