JAKARTA – Aksi korporasi di pasar modal Indonesia terpantau kian bergairah. Sejumlah emiten kini gencar melakukan penghimpunan dana melalui skema penambahan modal dengan memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau *rights issue*.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) per 17 April 2026 mencatat, telah ada tiga perusahaan tercatat yang merealisasikan *rights issue* dengan total nilai mencapai Rp 3,75 triliun. Saat ini, beberapa emiten lainnya sedang dalam tahap penyusunan prospektus atau baru saja mendapatkan restu dari Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
PT Asuransi Digital Bersama Tbk (YOII) menjadi salah satu perusahaan yang baru mendapat persetujuan RUPS pada 15 April 2026. Perseroan berencana menerbitkan 684,93 juta saham baru dengan harga Rp 100 per lembar, sehingga berpotensi meraup dana segar Rp 68,49 miliar. Dana tersebut rencananya dialokasikan untuk biaya pemasaran serta pengembangan aplikasi dan sumber daya manusia.
Sekretaris Perusahaan Asuransi Digital Bersama, Rahmat Dwiyanto, menjelaskan bahwa *rights issue* dipilih sebagai mekanisme paling optimal guna memenuhi ketentuan ekuitas dalam POJK 23/2023.
“Jika melalui pinjaman, likuiditas memang bertambah, namun ekuitas tidak terpenuhi karena pinjaman dicatat sebagai liabilitas,” ujar Rahmat. Ia menambahkan bahwa metode ini juga memperkuat permodalan secara langsung tanpa menambah beban risiko keuangan perusahaan.
Langkah serupa juga diambil oleh PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk (RMKO). Setelah mendapat restu pemegang saham pada 8 April 2026, RMKO membidik dana sebesar Rp 159,99 miliar melalui penerbitan 457,14 juta saham baru.
Direktur Keuangan RMKO, Elbert, menyebut *rights issue* memberikan fleksibilitas operasional yang lebih baik dibandingkan instrumen utang. “Pinjaman atau obligasi cenderung membatasi ruang gerak karena adanya beban bunga dan *covenant*,” jelasnya.
Selain *rights issue*, instrumen obligasi juga masih menjadi primadona. Hingga 17 April 2026, sebanyak 52 emiten telah menerbitkan surat utang dengan nilai total Rp 57,16 triliun. PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) menjadi salah satu emiten yang mengombinasikan kedua strategi tersebut.
TOBA berencana menerbitkan 1,39 miliar saham baru untuk ekspansi di sektor energi terbarukan, pengelolaan limbah, dan kendaraan listrik. Di saat bersamaan, mereka juga menyiapkan Obligasi Berkelanjutan I Tahap III Tahun 2026 senilai Rp 175 miliar dengan bunga tetap 9% per tahun berjangka waktu tujuh tahun.
SVP Corporate Finance & Investor Relations TBS Energi Utama, Mirza Hippy, menegaskan bahwa perusahaan terus mengevaluasi instrumen pendanaan yang paling menguntungkan bagi pemegang saham di tengah kondisi pasar yang dinamis.
Menanggapi tren ini, pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy, menilai *rights issue* sangat strategis bagi emiten. Selain memperbaiki struktur neraca melalui peningkatan ekuitas dan *free float* saham, skema ini tidak membebani arus kas perusahaan dengan pembayaran bunga.
“Dari sisi neraca, *rights issue* memperbaiki *leverage* perusahaan. Selain itu, pilihan ini juga memberi sinyal bahwa emiten merasa harga saham mereka sedang dalam posisi yang baik dan tidak *undervalued*,” tutup Budi.







