JAKARTA – Stabilitas suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) diprediksi menjadi katalis positif bagi sektor perbankan nasional menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) mendatang. Proyeksi ini diharapkan mampu memperbaiki transmisi kebijakan moneter sekaligus meredakan tekanan pada margin bunga bersih (NIM) yang selama ini menghambat kinerja saham perbankan.
Hendra Wardana, pengamat pasar modal dan pendiri Republik Investor, menilai langkah BI menahan suku bunga akan menjadi titik balik bagi profitabilitas emiten perbankan. Stabilitas ini diperkirakan menjaga margin tetap terjaga dalam beberapa kuartal ke depan.
Sejauh ini, BI telah mempertahankan BI rate di level 4,75% sejak awal tahun, yang mencerminkan pelonggaran kumulatif sebesar 125 basis poin sejak Januari 2025. Namun, transmisi ke sektor riil masih belum optimal. Hingga Februari 2026, suku bunga kredit baru turun sekitar 40 basis poin, sedangkan bunga deposito satu bulan turun 64 basis poin.
Ketimpangan tersebut sempat menekan NIM perbankan karena biaya dana (cost of fund) meningkat lebih cepat akibat ketatnya persaingan penghimpunan dana pihak ketiga. Meski begitu, jika suku bunga tetap dipertahankan, tekanan biaya tersebut diproyeksikan akan mulai melandai.
Di sisi pasar saham, tekanan jual masih membayangi emiten bank besar sejak awal tahun (ytd). Hingga penutupan perdagangan Jumat (17/4), saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terkoreksi 20,43% ke level Rp 6.425. Kondisi serupa dialami PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang turun 15,1% ke Rp 3.710, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) melemah 9,41% ke Rp 4.620, serta PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang turun 6,28% ke Rp 3.430.
Kendati harga saham tertekan, fundamental sektor perbankan dinilai tetap kokoh. Pertumbuhan kredit diprediksi berada di angka *high single digit* hingga *low double digit*, didorong oleh permintaan dari sektor konsumsi dan korporasi. Risiko kredit pun terpantau terkendali karena belum ada lonjakan beban bunga yang signifikan bagi debitur.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menyebut pasar sebenarnya telah mengantisipasi kebijakan suku bunga yang stabil, terutama di tengah volatilitas global dan pelemahan nilai tukar rupiah. Menurutnya, saham perbankan tetap menarik untuk dikoleksi baik dari sisi fundamental maupun valuasi.
Nico mematok target harga akhir tahun untuk BBCA di Rp 9.600, BBRI di Rp 4.380, BMRI di Rp 5.860, dan BBNI di Rp 5.000. Sementara itu, Hendra Wardana merekomendasikan *speculative buy* untuk BBCA dengan target Rp 6.800, serta melihat potensi kenaikan BMRI ke Rp 4.800, BBNI ke Rp 3.900, dan BBRI ke Rp 3.600.
Secara keseluruhan, konsistensi kebijakan moneter BI menjadi fondasi penting bagi pemulihan sektor perbankan nasional, baik dari sisi kinerja keuangan maupun prospek pergerakan harga saham di pasar modal.







