Tutup
Regulasi

Penyebab Perbedaan Pergerakan Harga Emas Antam dan Emas Dunia Saat Ini

91
×

Penyebab Perbedaan Pergerakan Harga Emas Antam dan Emas Dunia Saat Ini

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Harga emas batangan bersertifikat Antam produksi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mencatatkan kenaikan signifikan pada perdagangan Selasa (21/4). Berbanding terbalik, harga emas dunia justru mengalami koreksi di tengah dinamika geopolitik global.

Berdasarkan data situs Logam Mulia, harga emas Antam pecahan satu gram naik Rp40.000 menjadi Rp2.880.000. Sementara itu, harga *buyback* atau harga pembelian kembali ikut menguat Rp50.000 menjadi Rp2.690.000 per gram.

Di sisi lain, harga emas dunia di pasar internasional melemah 0,75% ke level US$4.785,77 per ons troi pada Selasa pukul 14.10 WIB, mengutip data Trading Economics.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai kenaikan harga emas Antam saat ini lebih dipicu oleh sentimen sesaat di pasar domestik. Ia menyebut antusiasme tersebut muncul di tengah harapan terkait perundingan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran.

Namun, Lukman mengingatkan bahwa situasi geopolitik masih sangat tidak menentu. “Terlalu dini dan rumit untuk menyatakan perang ini akan berakhir,” ujarnya.

Menurut Lukman, eskalasi konflik di Timur Tengah sebenarnya menjadi katalis penguatan harga emas. Namun, kenaikan harga minyak mentah akibat penutupan Selat Hormuz justru memicu kekhawatiran inflasi dan kenaikan suku bunga acuan, yang akhirnya menahan laju harga emas dunia.

“Fokus investor emas saat ini sebenarnya tertuju pada kapan Selat Hormuz akan kembali dibuka,” tambah Lukman.

Ia memproyeksikan, jika blokade Selat Hormuz terus berlanjut, tekanan inflasi akan terus menekan harga emas dunia hingga ke kisaran US$4.500 per ons troi. Dalam skenario tersebut, kenaikan harga emas pun diperkirakan terbatas maksimal di level US$5.000 per ons troi.

Sebaliknya, jika tekanan inflasi dan suku bunga acuan melandai pada akhir tahun atau awal tahun depan, harga emas memiliki potensi untuk melonjak ke kisaran US$5.700 hingga US$6.000 per ons troi.

Menanggapi fluktuasi ini, Lukman menyarankan investor untuk menerapkan strategi *buy on weakness* dan *sell on correction*. “Khusus bagi investor jangka panjang, kondisi saat ini menjadi kesempatan yang baik untuk melakukan pembelian dan menahannya (*hold*),” pungkasnya.

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Harga saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) kompak mengalami penurunan setelah pengumuman terbaru dari Morgan Stanley Capital International (MSCI). Berdasarkan pantauan Kontan, harga saham BREN melorot 7,95% ke level Rp 6.075 per saham pada perdagangan intraday Selasa (21/4). Begitu pula dengan harga saham DSSA yang merosot 13,76% ke level Rp 2.820 per saham. Penurunan…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih belum mampu bangkit dari tekanan. Hingga penutupan perdagangan Senin (20/4/2026), harga BBCA hanya naik tipis 0,78% ke level Rp 6.475 per saham—masih jauh di bawah psikologis Rp 7.000. Sejak awal tahun, tekanan terhadap saham bank berkapitalisasi jumbo ini terbilang dalam. BBCA sudah terkoreksi 19,81% secara year to date (YtD) dan menjadi salah satu penekan utama Indeks Harga…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksi bergerak konsolidasi dengan kecenderungan melemah pada perdagangan hari ini (21/4/2026), seiring meningkatnya kembali tensi geopolitik global. Pada Senin (20/4/2026), IHSG ditutup melemah 0,52% ke level 7.594,11. Indeks sempat menguat di awal sesi, namun berbalik melemah hingga akhir perdagangan. Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang mengatakan,…