Regulasi

Penyebab Perbedaan Pergerakan Harga Emas Antam dan Emas Dunia Saat Ini

178
×

Penyebab Perbedaan Pergerakan Harga Emas Antam dan Emas Dunia Saat Ini

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Harga emas batangan bersertifikat Antam produksi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mencatatkan kenaikan signifikan pada perdagangan Selasa (21/4). Berbanding terbalik, harga emas dunia justru mengalami koreksi di tengah dinamika geopolitik global.

Berdasarkan data situs Logam Mulia, harga emas Antam pecahan satu gram naik Rp40.000 menjadi Rp2.880.000. Sementara itu, harga *buyback* atau harga pembelian kembali ikut menguat Rp50.000 menjadi Rp2.690.000 per gram.

Di sisi lain, harga emas dunia di pasar internasional melemah 0,75% ke level US$4.785,77 per ons troi pada Selasa pukul 14.10 WIB, mengutip data Trading Economics.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai kenaikan harga emas Antam saat ini lebih dipicu oleh sentimen sesaat di pasar domestik. Ia menyebut antusiasme tersebut muncul di tengah harapan terkait perundingan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran.

Namun, Lukman mengingatkan bahwa situasi geopolitik masih sangat tidak menentu. “Terlalu dini dan rumit untuk menyatakan perang ini akan berakhir,” ujarnya.

Menurut Lukman, eskalasi konflik di Timur Tengah sebenarnya menjadi katalis penguatan harga emas. Namun, kenaikan harga minyak mentah akibat penutupan Selat Hormuz justru memicu kekhawatiran inflasi dan kenaikan suku bunga acuan, yang akhirnya menahan laju harga emas dunia.

“Fokus investor emas saat ini sebenarnya tertuju pada kapan Selat Hormuz akan kembali dibuka,” tambah Lukman.

Ia memproyeksikan, jika blokade Selat Hormuz terus berlanjut, tekanan inflasi akan terus menekan harga emas dunia hingga ke kisaran US$4.500 per ons troi. Dalam skenario tersebut, kenaikan harga emas pun diperkirakan terbatas maksimal di level US$5.000 per ons troi.

Sebaliknya, jika tekanan inflasi dan suku bunga acuan melandai pada akhir tahun atau awal tahun depan, harga emas memiliki potensi untuk melonjak ke kisaran US$5.700 hingga US$6.000 per ons troi.

Menanggapi fluktuasi ini, Lukman menyarankan investor untuk menerapkan strategi *buy on weakness* dan *sell on correction*. “Khusus bagi investor jangka panjang, kondisi saat ini menjadi kesempatan yang baik untuk melakukan pembelian dan menahannya (*hold*),” pungkasnya.

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com Indeks utama Wall Street melemah pada perdagangan hari Jumat (5/6/2026). Penurunan ini dipicu oleh saham-saham produsen chip yang mulai kehilangan momentum setelah sempat mengalami reli tajam. Di sisi lain, laporan bulanan lapangan kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan memicu ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat (hawkish). Baca Juga: IHSG Ambruk 4,19% ke 5.594, Cek SumbarSumbarbisnis.com Sell Terbesar Asing Akhir…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan kuat pada perdagangan Rabu (3/6/2026), seiring pelemahan nilai tukar rupiah dan sentimen negatif dari dalam maupun luar negeri. Tekanan jual yang masif juga diwarnai aksi keluar dana asing dalam jumlah besar. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup merosot 4,11% atau turun 254 poin ke level 5.941,06. Sepanjang sesi perdagangan, indeks bergerak…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Tekanan di pasar keuangan domestik masih berlanjut. Nilai tukar rupiah dan pasar saham kompak melemah sepanjang pekan terakhir di tengah meningkatnya ketidakpastian dan sentimen negatif investor terhadap aset Indonesia. Mengutip Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot melemah 0,86% dalam sepekan hingga menyentuh level Rp 18.036 per dolar Amerika Serikat (AS). Pada saat yang sama, tekanan juga terjadi di pasar saham….

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) tengah menyiapkan langkah strategis baru melalui rencana penerbitan obligasi, dengan salah satu fokus penggunaan dana sebesar Rp1,5 triliun untuk anak usahanya, PT Arutmin Indonesia. Manajemen BUMI menjelaskan, dana tersebut akan digunakan untuk mendukung keberlanjutan operasional Arutmin, termasuk kebutuhan perpanjangan izin usaha pertambangan serta kewajiban hilirisasi batubara sesuai…