JAKARTA – Perjalanan investasi setiap individu memiliki dinamika unik yang dipengaruhi oleh kesempatan dan pengalaman hidup. Hal inilah yang dialami oleh Direktur PT MPX Logistics International Tbk (MPXL), Sunyoto Bambang Kusumo, dalam menavigasi volatilitas pasar modal domestik maupun global.
Ketertarikan Sunyoto pada dunia investasi bermula dari program kepemilikan saham karyawan Astra. Sejak saat itu, ia mulai mendalami mekanisme pasar saham secara otodidak. Pengalaman pahit sempat ia rasakan pada krisis finansial 2008, di mana nilai portofolionya merosot drastis hingga 95%. Peristiwa itu menjadi titik balik baginya untuk belajar lebih serius mengenai sistem perdagangan saham.
Pada 2012, Sunyoto mengikuti berbagai pelatihan dan mentoring di Singapura. Upaya ini membuahkan hasil, di mana ia mampu mencatatkan imbal hasil konsisten di kisaran 20%–30% per tahun. Kini, ia mengandalkan bantuan *artificial intelligence* (AI) dan *trading system* untuk melakukan analisis teknikal secara efisien.
Dengan bantuan teknologi, Sunyoto kini hanya perlu meluangkan waktu singkat setiap hari untuk menentukan kandidat saham yang potensial. Untuk pasar saham Indonesia, ia biasanya mengambil keputusan menjelang penutupan perdagangan, sementara untuk pasar saham Amerika Serikat (AS), ia menyesuaikan dengan jadwal perdagangan di sana.
Saat ini, portofolio Sunyoto didominasi oleh aset saham di Indonesia dan AS. Untuk investasi jangka panjang, ia secara rutin menambah posisi di saham perbankan berkapitalisasi besar seperti BBRI dan BBCA, serta instrumen S&P 500 dan saham NVIDIA di pasar AS. Berkat penerapan sistem *Quant Trading*, ia mengklaim berhasil mencatat *return* mencapai 126% dari modal dasar tahun ini, meskipun di tengah situasi geopolitik global yang tidak menentu.
Meski aktif sebagai *trader*, Sunyoto menekankan pentingnya memisahkan konsep antara investasi dan *trading*. Baginya, investasi harus memiliki *underlying* atau aset dasar yang jelas, seperti kinerja perusahaan, laba, dan efisiensi operasional. Ia pun bersikap selektif terhadap aset kripto, dengan tidak menjadikannya sebagai instrumen investasi jangka panjang.
Bagi Sunyoto, kebebasan finansial melalui pengelolaan aset adalah kunci kemandirian di masa depan. Ia berpesan agar para investor tidak sekadar mengikuti tren atau opini di media sosial.
“Kenali investasi Anda dan pahami bagaimana uang Anda bekerja, bukan sekadar percaya pada klaim tanpa bukti,” tegasnya. Ia menyarankan investor untuk selalu melakukan *backtesting* pada sistem *trading* yang digunakan serta fokus pada data dan fakta guna meminimalisir risiko kerugian.







