JAKARTA – Harga emas dunia masih bertahan di level tinggi kendati sempat mengalami koreksi dalam sepekan terakhir. Prospek pelonggaran kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) dan kuatnya permintaan investasi global menjadi penopang utama yang menjaga harga logam mulia tetap stabil.
Berdasarkan data Trading Economics pada Senin (1/6/2026) pukul 07.40 WIB, harga emas spot berada di posisi US$ 4.535 per ons troi. Angka ini mencatatkan penurunan sebesar 0,62% dalam sepekan, namun secara bulanan masih menguat 0,40%.
Senada dengan emas, harga perak berada di level US$ 75,51 per ons troi. Meski melemah 3,26% secara mingguan, logam perak masih mencatatkan kenaikan 5,99% dalam kurun waktu satu bulan terakhir.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan bahwa pergerakan harga logam mulia saat ini sangat dipengaruhi oleh kombinasi sentimen geopolitik, kebijakan suku bunga AS, fluktuasi dolar AS, serta arus investasi ke instrumen emas.
Ia menilai, meredanya ketegangan geopolitik menyusul kabar gencatan senjata antara AS dan Iran memang sempat mengurangi kekhawatiran terhadap inflasi energi. Di sisi lain, kondisi ini justru membuka ruang bagi bank sentral AS untuk melonggarkan kebijakan moneter.
“Kabar kesepakatan AS-Iran menurunkan kekhawatiran inflasi energi, namun justru mendukung emas karena pasar membaca peluang suku bunga tinggi lebih lama mulai berkurang,” ujar Josua, Jumat (29/5/2026).
Selain faktor kebijakan moneter, permintaan investasi emas fisik masih sangat solid. Pada April 2026, ETF emas fisik global mencatat arus masuk dana sebesar US$ 6,6 miliar. Hal ini membawa total aset kelolaan ETF emas dunia mencapai US$ 615 miliar dengan kepemilikan fisik sebesar 4.137 ton.
Secara akumulatif, permintaan emas global pada kuartal I-2026 naik 2% secara tahunan menjadi 1.231 ton, dengan nilai transaksi melonjak 74% menjadi rekor tertinggi di angka US$ 193 miliar.
Menatap prospek ke depan, Josua memprediksi harga emas berpotensi bergerak di kisaran US$ 4.600 hingga US$ 4.850 per ons troi pada kuartal III-2026, dengan titik tengah di level US$ 4.700 per ons troi.
Namun, ia mengingatkan investor bahwa volatilitas pasar masih cukup tinggi. Jika ketegangan geopolitik mereda secara signifikan dan dolar AS menguat, harga emas berisiko terkoreksi ke kisaran US$ 4.250–US$ 4.400 per ons troi.
Sebaliknya, jika konflik geopolitik kembali memanas dan memicu permintaan aset aman (safe haven), harga emas memiliki peluang untuk kembali menguji level psikologis di angka US$ 5.000 per ons troi.
Sementara itu, untuk logam perak, harga diperkirakan akan bergerak pada rentang US$ 72 hingga US$ 80 per ons troi sepanjang kuartal III-2026. Meskipun berpotensi mengikuti tren penguatan emas, perak dinilai memiliki risiko volatilitas yang lebih tinggi karena ketergantungannya terhadap permintaan sektor industri.







