Perbankan

Memperkuat Kolaborasi Lintas Sektor Hadapi Perubahan Iklim di Papua

107
×

Memperkuat Kolaborasi Lintas Sektor Hadapi Perubahan Iklim di Papua

Sebarkan artikel ini

Jayapura – Sebanyak 50 peserta yang terdiri dari unsur pemerintah, akademisi, hingga organisasi masyarakat sipil mengikuti pelatihan intensif di Hotel Horison Sentani, Jayapura, pada 1-4 Juni 2026. Kegiatan ini fokus pada penerapan Nature-based Solutions (NbS) dan Ecosystem-based Adaptation (EbA) sebagai langkah strategis menghadapi krisis iklim.

Tanah Papua memiliki kekayaan hayati yang melimpah, namun di sisi lain cukup rentan terhadap dampak perubahan iklim global. Oleh karena itu, para peserta dibekali strategi pemanfaatan alam untuk menjaga keberlanjutan ekosistem serta teknik mitigasi dan adaptasi yang tepat.

Head of Forest & Wildlife WWF-Indonesia Program Papua, Wika Rumbiak, menekankan bahwa integrasi kearifan lokal dengan sains modern sangat krusial. Menurutnya, kolaborasi ini kunci untuk menciptakan model adaptasi yang kontekstual dan efektif bagi masyarakat di tingkat tapak.

Perspektif internasional pun turut dihadirkan melalui pakar dari jaringan global WWF. Shaun Martin dari WWF-US menyoroti peran strategis alam sebagai garda depan dalam melindungi populasi dari ancaman badai, kenaikan permukaan air laut, hingga risiko tanah longsor.

Sementara itu, pakar dari WWF Finland, Henna Tanskanen, melihat potensi besar dari inisiatif lokal yang telah berjalan di Papua. Ia mendorong sinergi berkelanjutan antara pemerintah dan masyarakat sipil untuk menggalang pendanaan iklim yang lebih luas guna mendukung aksi nyata di lapangan.

Selain pemahaman konsep, pelatihan ini juga menyasar kemampuan teknis dalam penyusunan proposal pendanaan iklim berstandar internasional. Fikri Al Mubarok dari BBKSDA Papua menyambut baik wawasan baru ini, meski ia berharap ada pendampingan berkelanjutan saat proyek mulai dieksekusi.

Harapan serupa datang dari Yohanes Yesnath dari Pokdarwis Kampung Nanggouw yang menginginkan edukasi ini menyentuh lapisan masyarakat akar rumput. Ia menilai pelibatan komunitas lokal menjadi elemen vital agar warga lebih siap beradaptasi dengan perubahan alam.

Senada dengan hal tersebut, Direktur Perkumpulan MNUKWAR Papua, Sena Aji, meyakini konsep EbA sangat relevan untuk menyelaraskan kepentingan iklim, manusia, dan alam. Baginya, pendekatan ini bisa menjadi acuan utama dalam perencanaan pembangunan yang lebih ramah lingkungan di tanah Papua.

WWF-Indonesia menegaskan bahwa penguatan kapasitas dan kerja sama lintas sektor merupakan kunci membangun ketahanan iklim yang adil. Program ini diharapkan mampu membentuk jejaring multipihak yang solid dalam memperjuangkan kelestarian lingkungan di Bumi Cenderawasih.