SLEMAN – Pemerintah pusat berencana menghidupkan kembali operasional penerbangan komersial di Bandara Adisutjipto, Yogyakarta. Kebijakan ini disambut antusias oleh Pemerintah Kabupaten Sleman, yang telah menyiapkan strategi khusus untuk mengoptimalkan sektor pariwisata di wilayah tersebut.
Dinas Pariwisata Sleman kini fokus membidik wisatawan kelas atas sebagai pasar utama pasca-reaktivasi bandara. Strategi yang disusun melibatkan paket perjalanan premium yang memadukan wisata kuliner bernilai tinggi (*gastronomy*) serta wisata kebugaran (*wellness*).
Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata Sleman, Kus Endarto, mengungkapkan bahwa tren pariwisata kini telah bergeser. Fokus utama bukan lagi mengejar kuantitas kunjungan, melainkan meningkatkan kualitas wisatawan melalui masa tinggal yang lebih lama dan belanja yang lebih besar.
“Kami menargetkan paket wisata premium dengan estimasi minimal Rp2,5 juta per orang. Kami telah berkolaborasi dengan perguruan tinggi, perhotelan, hingga pengelola destinasi untuk merealisasikan konsep ini,” ujar Kus, Jumat (5/6/2026).
Konsep wisata gastronomi yang ditawarkan tidak sekadar menyajikan makanan tradisional. Setiap hidangan akan dibalut dengan narasi sejarah yang terinspirasi dari relief candi di Sleman, sehingga memberikan pengalaman wisata yang eksklusif.
Selain itu, reaktivasi Bandara Adisutjipto dinilai sangat strategis bagi sektor *Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition* (MICE) dan olahraga golf. Lokasi bandara yang jauh lebih dekat dengan pusat kota dibandingkan Yogyakarta International Airport (YIA) di Kulon Progo dipastikan akan memangkas waktu tempuh wisatawan secara signifikan.
Pihak Dinas Pariwisata optimistis hal ini akan kembali menggairahkan okupansi hotel di Sleman serta mendongkrak kunjungan ke destinasi seperti Merapi Golf yang selama ini sempat terkendala akses jarak.
Sementara itu, General Manager Bandara Adisutjipto, Wibowo Cahyono Soekadi, menegaskan bahwa pihaknya siap menjalankan instruksi pemerintah pusat. Saat ini, Bandara Adisutjipto masih melayani penerbangan domestik terbatas untuk pesawat jenis baling-baling (*propeller*).
Cahyono menambahkan, pemulihan operasional pesawat jet komersial nantinya akan melalui kajian matang. Pihak pengelola bandara berkomitmen mengutamakan aspek keselamatan, kenyamanan pengguna jasa, serta standardisasi penerbangan nasional.
Manajemen bandara juga tengah menyusun rencana mitigasi dan penataan rute penerbangan agar tercipta efisiensi ruang udara. Langkah ini dilakukan melalui koordinasi intensif dengan kementerian terkait dan pemangku kepentingan industri penerbangan lainnya untuk memastikan transisi operasional berjalan lancar.







