Jakarta – Anggota Komisi VII DPR RI, Andhika Satya Wasistho, menyoroti besarnya anggaran hak siar Piala Dunia yang dikeluarkan TVRI mencapai 80 juta dolar AS. Ia menilai angka tersebut sangat timpang dibandingkan negara tetangga seperti Thailand sebesar 40 juta dolar AS dan Malaysia yang hanya 35 juta dolar AS.
Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Gedung DPR, Senayan, Rabu (17/6/2026), legislator Fraksi Partai Golkar ini mendesak TVRI memberikan penjelasan transparan. Langkah ini dinilai krusial untuk menghindari potensi pemborosan anggaran negara sekaligus meminimalisir risiko hukum di kemudian hari.
“Jangan sampai nantinya ini terkesan seperti ada pemborosan, dan ke depan bisa jadi ada permasalahan terkait hal tersebut. Transparansi harus menjadi perhatian,” tegas Andhika.
Menanggapi penurunan pagu indikatif TVRI, Andhika menyarankan lembaga penyiaran publik tersebut lebih kreatif mencari pendanaan. Salah satu opsi yang ditawarkan adalah memanfaatkan skema pinjaman luar negeri agar program strategis tetap berjalan optimal.
Ia juga menekankan agar tambahan anggaran nantinya diprioritaskan pada penguatan infrastruktur dan percepatan transformasi digital. Modernisasi pemancar dan peningkatan jaringan di wilayah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal) menjadi catatan penting yang harus segera direalisasikan.
Selain aspek teknis, Andhika turut menuntut TVRI lebih ambisius dalam meningkatkan kontribusi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang saat ini masih di angka Rp400 miliar. Ia berharap inovasi tetap dilakukan secara agresif tanpa mengabaikan fungsi utama sebagai penyedia layanan informasi, edukasi, dan budaya bagi masyarakat.







