JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat (AS) membuka sesi perdagangan Selasa (14/7/2026) dengan pergerakan yang bervariasi. Sentimen pasar dipengaruhi oleh rilis data inflasi yang lebih rendah dari ekspektasi serta dimulainya musim laporan keuangan kuartal II-2026.
Indeks Dow Jones Industrial Average mencatat koreksi sebesar 452,3 poin atau 0,86% ke level 52.046,36 pada pembukaan perdagangan. Sementara itu, indeks S&P 500 justru berhasil menguat 21,4 poin atau 0,28% ke posisi 7.536,7.
Penguatan juga terjadi pada indeks Nasdaq Composite yang naik 142,3 poin atau 0,55% menjadi 26.015,49. Kenaikan pada indeks berbasis teknologi ini didorong oleh optimisme pelaku pasar terhadap arah kebijakan moneter bank sentral AS.
Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan indeks harga konsumen (CPI) tumbuh 3,5% secara tahunan (year on year) pada Juni 2026. Angka ini tercatat lebih rendah dibandingkan proyeksi ekonom dalam jajak pendapat Reuters yang memprediksi kenaikan sebesar 3,8%.
Secara bulanan (month to month), CPI bahkan menunjukkan penurunan sebesar 0,4%. Capaian tersebut melampaui ekspektasi pasar yang sebelumnya memperkirakan inflasi bulanan hanya akan terkoreksi sebesar 0,1%.
Data inflasi yang melandai ini memicu spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) tidak akan terburu-buru dalam mengambil langkah pengetatan suku bunga. Peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan mendatang kini menyusut menjadi 15%, dari angka sebelumnya sebesar 35%.
Chief Investment Officer Regan Capital, Skyler Weinand, menilai perlambatan inflasi merupakan sinyal meredanya lonjakan harga akibat konflik di Iran. Namun, ia mengingatkan investor tetap harus waspada terhadap potensi kebijakan hawkish dari Ketua The Fed, Kevin Warsh.
Pelaku pasar saat ini tengah menanti pidato resmi Kevin Warsh di hadapan Kongres AS terkait laporan kebijakan moneter semesteran. Pernyataan tersebut diprediksi akan menjadi acuan utama mengenai arah suku bunga ke depan.
Di sisi lain, perhatian investor tertuju pada kinerja keuangan emiten perbankan besar di Wall Street. Saham Goldman Sachs sempat melonjak 3,8% menyusul laporan laba kuartalan yang melampaui estimasi analis, didorong oleh tingginya aktivitas merger dan akuisisi.
Sebaliknya, saham perbankan lain seperti JPMorgan Chase, Citigroup, Bank of America, dan Wells Fargo mengalami koreksi meski mencatatkan kenaikan laba. Tekanan jual juga menimpa saham IBM yang anjlok 21,7% setelah memberikan proyeksi pendapatan yang mengecewakan.
Penurunan saham IBM turut berdampak negatif pada sektor perangkat lunak lainnya. Saham Oracle, ServiceNow, dan Accenture terpantau melemah di tengah kekhawatiran investor mengenai prospek pendapatan emiten di kuartal mendatang.
Musim laporan keuangan saat ini akan menjadi indikator krusial bagi kesehatan korporasi di Amerika Serikat. Kinerja para emiten pada kuartal II-2026 ini akan menentukan keberlanjutan reli pasar saham setelah indeks S&P 500 mencatatkan kenaikan sekitar 10% sepanjang tahun berjalan.







