Emas

Harga Emas Tertekan, Menuju Penurunan Mingguan Terbesar dalam Enam Pekan

59
×

Harga Emas Tertekan, Menuju Penurunan Mingguan Terbesar dalam Enam Pekan

Sebarkan artikel ini
Kepingan emas batangan dengan latar belakang grafik pasar keuangan yang menurun
Harga emas dunia mencatatkan penurunan mingguan terdalam dalam enam pekan terakhir akibat eskalasi konflik global.

JAKARTA – Harga emas dunia diproyeksikan mencatatkan pelemahan mingguan terdalam dalam enam pekan terakhir. Tren negatif ini dipicu oleh eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu lonjakan harga minyak global.

Hingga Jumat (17/7/2026) pukul 04.55 GMT, harga emas spot memang sempat mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,3% ke level US$ 3.980,64 per troy ounce. Namun, penguatan harian tersebut belum mampu menutupi koreksi tajam yang terjadi sepanjang pekan ini.

Secara akumulatif, harga emas telah terkoreksi sekitar 3,4% dalam sepekan terakhir. Angka ini menjadi penurunan mingguan paling signifikan sejak awal Juni 2026.

Kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus juga terpantau melemah 0,2% menjadi US$ 3.984,10 per troy ounce. Sebelumnya, harga sempat menyentuh level terendah sejak awal Juli.

Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer, menyatakan bahwa lonjakan harga minyak akibat ketegangan di Timur Tengah telah mengaburkan sentimen positif dari data inflasi AS yang melandai. Pasar kini lebih fokus pada risiko inflasi lanjutan akibat kenaikan harga energi.

Konflik yang kian memanas ini mengancam arus pasokan energi global melalui Selat Hormuz. Selain itu, laporan mengenai potensi penutupan jalur ekspor di Laut Merah turut mendorong harga minyak naik sekitar 12% dalam satu pekan.

Kenaikan harga minyak berpotensi memicu tekanan inflasi global yang lebih persisten. Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi.

Emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil menjadi kurang menarik di tengah prospek suku bunga tinggi. Investor cenderung mengalihkan modal ke aset lain yang menawarkan imbal hasil lebih kompetitif.

Sinyal pengetatan moneter semakin menguat setelah Presiden Federal Reserve Dallas, Lorie Logan, mendukung kenaikan suku bunga. Hal senada juga diungkapkan oleh Wakil Ketua The Fed, Philip Jefferson, yang membuka opsi serupa jika inflasi tidak segera turun.

Berdasarkan data CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada Desember mendatang kini mencapai sekitar 73%. Sentimen ini terus membayangi pergerakan pasar logam mulia secara keseluruhan.

Tekanan jual tidak hanya terjadi pada emas, namun juga merembet ke logam mulia lainnya. Harga perak spot turun 0,6% menjadi US$ 55,20 per troy ounce.

Platinum melemah 1,1% ke level US$ 1.599,17 per troy ounce. Sementara itu, paladium turut terkoreksi 0,4% menjadi US$ 1.244,16 per troy ounce.

Ketiga logam tersebut diperkirakan akan menutup perdagangan pekan ini di zona negatif. Kondisi ini mencerminkan kehati-hatian investor dalam merespons ketidakpastian geopolitik dan kebijakan moneter global.