Valuta

Rupiah Menguat ke Rp17.921, Simak Proyeksi dan Sentimen Pasar Pekan Depan

61
×

Rupiah Menguat ke Rp17.921, Simak Proyeksi dan Sentimen Pasar Pekan Depan

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat di layar monitor perdagangan
Nilai tukar rupiah ditutup menguat ke level Rp17.921 per dolar AS pada perdagangan Jumat (17/7/2026).

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mencatatkan penguatan pada penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat (17/7/2026). Di pasar spot, mata uang Garuda menguat 0,36% ke level Rp 17.921 per dolar AS.

Secara akumulatif dalam sepekan terakhir, rupiah berhasil menguat sebesar 0,79%. Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia turut mengonfirmasi tren positif ini dengan kenaikan 0,53% ke level Rp 17.944 per dolar AS.

Meskipun menunjukkan pemulihan mingguan, pergerakan rupiah dinilai masih sangat fluktuatif. Nilai tukar sempat tertahan di level psikologis Rp 18.000 per dolar AS akibat sentimen domestik dan eksternal.

Faktor domestik yang menekan mata uang lokal meliputi defisit APBN hingga semester I-2026 yang mencapai Rp 196,5 triliun atau setara 0,76% terhadap PDB. Pasar merespons negatif percepatan realisasi belanja negara yang membebani stabilitas ekonomi nasional.

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang turun menjadi 117,8 pada Juni 2026 dari sebelumnya 120,9 turut membebani sentimen pasar. Angka tersebut merupakan level terendah sejak September tahun lalu, yang mencerminkan pelemahan daya beli masyarakat.

Kepercayaan investor juga sempat terganggu oleh laporan Fitch Ratings mengenai kerentanan ekonomi makro Indonesia. Laporan tersebut menyoroti penurunan cadangan devisa serta potensi arus modal keluar atau capital outflow.

Meski cadangan devisa akhir Juni 2026 tercatat naik tipis menjadi US$ 145,6 miliar dari US$ 144,9 miliar pada Mei, posisi tersebut masih tergolong rendah. Angka ini belum cukup kuat untuk memicu sentimen positif yang signifikan bagi pergerakan rupiah.

Di sisi eksternal, dinamika kebijakan The Fed menjadi penentu utama pergerakan mata uang global. Penurunan data inflasi AS, baik indeks harga konsumen maupun produsen yang di bawah ekspektasi, mengurangi tekanan terhadap suku bunga acuan.

Sentimen positif juga datang dari keputusan S&P yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia. Hal ini memberikan dukungan psikologis bagi investor di tengah ketidakpastian pasar negara berkembang.

Para analis memprediksi arah pergerakan mata uang dalam sepekan ke depan akan sangat bergantung pada rilis data ekonomi domestik. Kebijakan pemerintah dalam merespons defisit anggaran menjadi sorotan utama pelaku pasar untuk memulihkan kepercayaan.

Proyeksi rentang nilai tukar rupiah untuk pekan depan bervariasi di kalangan analis. Sutopo Widodo memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp 17.900 hingga Rp 18.150 per dolar AS.

Sementara itu, Lukman Leong memberikan estimasi yang sedikit lebih optimis. Ia memperkirakan nilai tukar rupiah akan berada dalam rentang Rp 17.700 hingga Rp 18.100 per dolar AS.