Ekonomi

Harga Minyak Tembus US$100, Mata Uang Asia Melemah terhadap Dolar AS

53
×

Harga Minyak Tembus US$100, Mata Uang Asia Melemah terhadap Dolar AS

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar AS di layar monitor perdagangan
Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp17.982 per dolar AS seiring lonjakan harga minyak mentah dunia.

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada perdagangan Jumat (24/7/2026). Rupiah dibuka di level Rp17.982 per dolar AS, mencatatkan koreksi sebesar 0,30% atau 45 poin.

Pelemahan ini sejalan dengan tren negatif yang dialami mayoritas mata uang di kawasan Asia. Sentimen utama yang menekan pasar keuangan regional adalah lonjakan harga minyak mentah dunia yang kembali menembus level psikologis US$100 per barel.

Harga minyak mentah jenis Brent terpantau berada di posisi US$100,82 per barel pada pukul 08.08 waktu Singapura. Angka ini mencerminkan kenaikan signifikan setelah pada sesi perdagangan sebelumnya harga sempat melonjak tajam sekitar 7%.

Kondisi tersebut menandai kembalinya harga minyak Brent di atas level US$100 per barel untuk pertama kalinya dalam dua bulan terakhir. Sepanjang pekan ini, kontrak berjangka minyak Brent bahkan telah mencatatkan akumulasi kenaikan sekitar 14%.

Lonjakan harga energi ini dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Laporan mengenai serangan kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah telah memicu kekhawatiran pasar global.

Kekhawatiran utama investor saat ini tertuju pada potensi gangguan pasokan energi dunia akibat konflik yang kian meluas. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) juga bergerak naik dan berada di level US$92,50 per barel.

Tekanan terhadap mata uang Asia tidak hanya dirasakan oleh Indonesia. Ringgit Malaysia tercatat melemah 0,13% ke level 4,0945 per dolar AS, sementara dong Vietnam terkoreksi 0,03% ke posisi 26.321 per dolar AS.

Di kawasan Asia Tenggara, peso Filipina juga mengalami nasib serupa dengan pelemahan sebesar 0,11%. Mata uang negara tersebut kini diperdagangkan pada level 61,828 per dolar AS.

Di sisi lain, pergerakan mata uang Asia lainnya cenderung terbatas dan bervariasi. Baht Thailand mencatatkan penguatan tipis sebesar 0,03% ke level 33,8140 per dolar AS dibandingkan posisi pembukaan.

Yuan China juga menunjukkan pergerakan serupa dengan kenaikan tipis 0,01%. Mata uang tersebut berada di posisi 6,7752 per dolar AS di tengah volatilitas pasar global yang dipicu oleh isu energi.

Kondisi pasar keuangan domestik belakangan ini memang berada dalam tekanan yang cukup intens. Pada perdagangan Kamis (9/7/2026) lalu, rupiah bahkan sempat ditutup melemah tajam ke level Rp18.128 per dolar AS.

Ketidakpastian geopolitik antara AS dan Iran yang kembali memanas terus menjadi faktor dominan dalam pergerakan harga komoditas dan nilai tukar. Para pelaku pasar kini terus memantau perkembangan situasi di Timur Tengah yang berisiko mengganggu stabilitas ekonomi global.