JAKARTA – Sinergi bisnis antara konglomerat Prajogo Pangestu dan Happy Hapsoro melalui PT Singaraja Putra Tbk (SINI) dan PT Petrosea Tbk (PTRO) resmi diperkuat melalui kontrak jasa pertambangan bernilai jumbo. Kerja sama strategis ini diproyeksikan memberikan tambahan pendapatan bagi SINI hingga mencapai Rp57,05 triliun sepanjang umur tambang.
Perjanjian tersebut mencakup pengerjaan pengupasan lapisan penutup hingga produksi batu bara di wilayah operasional SINI di Kecamatan Kapuas Tengah, Kalimantan Tengah. Proyek ini akan dilaksanakan oleh PTRO melalui dua anak usaha SINI, yakni PT Pesona Bara Cakrawala (PBC) dan PT Cakrawala Bara Persada (CBP).
Berdasarkan data perusahaan, tambang milik PBC diperkirakan menghasilkan pendapatan sebesar Rp45,57 triliun dengan target produksi 42 juta ton batu bara. Sementara itu, tambang milik CBP diproyeksikan menyumbang pendapatan sebesar Rp11,48 triliun dengan potensi produksi 8 juta ton batu bara.
Manajemen SINI menyatakan bahwa kolaborasi ini bertujuan mengoptimalkan target produksi sekaligus memastikan penerapan tata kelola pertambangan yang baik. Langkah ini diharapkan mampu memberikan nilai tambah signifikan bagi perusahaan serta seluruh entitas anak usaha.
Selain kontrak jasa, aksi korporasi ini diperkuat dengan peningkatan kepemilikan saham PTRO di SINI melalui mekanisme Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD). PTRO menyetor modal senilai Rp1,19 triliun, sehingga kini menguasai 19,88% saham SINI.
Sebagai bagian dari rangkaian transaksi, PTRO juga mengalihkan 99,99% kepemilikan PT Kemilau Mulia Sakti (KMS) kepada SINI. KMS merupakan induk dari PT Cristian Eka Pratama (CEP) yang memegang Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi di Kutai Barat, Kalimantan Timur.
Masuknya CEP ke dalam portofolio SINI semakin melengkapi aset tambang perseroan yang sebelumnya telah mencakup PT Persada Kapuas Prima dan PT Pasir Bara Prima. Seluruh entitas tambang tersebut kini terintegrasi dalam ekosistem jasa pertambangan yang dikelola oleh Petrosea.
Analis dari Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta Utama, menilai langkah ini sebagai upaya percepatan transformasi SINI menjadi perusahaan tambang terintegrasi. Sinergi ini dianggap menguntungkan kedua pihak melalui efisiensi biaya dan kepastian pendapatan jangka panjang.
Nafan menyoroti lima potensi sinergi utama, yakni percepatan pengembangan tambang, optimalisasi kontraktor internal, serta peningkatan kemudahan pendanaan. Selain itu, kolaborasi ini membuka peluang ekspansi aset yang lebih luas di masa depan.
Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, turut memberikan pandangan positif terhadap visibilitas pendapatan kedua emiten. Kontrak senilai Rp57 triliun tersebut dinilai menjadi katalis fundamental dalam memperbesar order book PTRO.
Meski demikian, investor diimbau untuk tetap mencermati eksekusi proyek serta margin operasional perusahaan. Faktor belanja modal dan arus kas menjadi variabel krusial yang menentukan realisasi laba di masa mendatang.






