Bursa Saham

Proyeksi Rebalancing MSCI Agustus 2026: CPIN dan GOTO Berisiko Keluar

69
×

Proyeksi Rebalancing MSCI Agustus 2026: CPIN dan GOTO Berisiko Keluar

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan harga saham di layar monitor komputer yang menunjukkan sentimen pasar modal Indonesia.
Pasar saham Indonesia bersiap menghadapi peninjauan ulang indeks global MSCI yang dijadwalkan pada Agustus 2026.

JAKARTA – Pasar saham Indonesia tengah bersiap menghadapi periode krusial seiring dengan agenda peninjauan ulang atau rebalancing indeks global MSCI dan FTSE yang dijadwalkan berlangsung sepanjang Agustus hingga September 2026. Perubahan komposisi ini berpotensi memicu volatilitas pada sejumlah saham emiten besar yang menjadi acuan portofolio investor institusi internasional.

CGS International Sekuritas Indonesia memproyeksikan hasil peninjauan MSCI akan diumumkan pada 13 Agustus 2026 mendatang. Hasil evaluasi tersebut direncanakan berlaku efektif saat pembukaan perdagangan pada 1 September 2026.

Dalam risetnya, CGS menempatkan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) sebagai kandidat utama yang berpeluang keluar dari indeks MSCI. Sementara itu, posisi PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) masih menjadi tanda tanya besar karena sangat bergantung pada keputusan MSCI terkait status pembekuan perdagangan (frozen status) emiten tersebut.

Di sisi lain, investor juga menantikan keputusan FTSE yang dijadwalkan rilis pada 21 Agustus 2026. Namun, ketidakpastian masih menyelimuti agenda ini mengingat Indonesia hingga saat ini masih berada dalam status pembekuan oleh penyedia indeks tersebut.

Apabila FTSE mencabut kebijakan pembatasan, sejumlah saham besar seperti PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) berpotensi terdampak. Emiten lain yang masuk dalam radar pemantauan adalah PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR), PT Avia Avian Tbk (AVIA), serta PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR).

Analis Mirae Asset Sekuritas, Wilbert Arifin, mencatat bahwa CPIN berisiko mengalami penurunan status akibat kapitalisasi pasar yang disesuaikan dengan free float berada di bawah ambang batas. Hal ini dipicu oleh pelemahan harga saham CPIN yang mencapai sekitar 22,5% sejak periode peninjauan Mei lalu.

Terkait GOTO, Mirae Asset menilai saham tersebut secara teknis masih memenuhi kriteria likuiditas MSCI. Namun, diskresi MSCI tetap menjadi faktor penentu utama, terutama mengingat harga saham GOTO yang stagnan di level tick floor Rp 50.

Dampak arus keluar dana pasif dari penyesuaian ini diperkirakan mencapai Rp 500 miliar jika hanya CPIN yang dikeluarkan. Jika GOTO turut terdepak, estimasi arus keluar dana bisa membengkak hingga Rp 1 triliun.

Kendati demikian, para analis menilai dampak terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan relatif terbatas. Penurunan bobot Indonesia di MSCI diprediksi hanya berkisar antara 0,01 hingga 0,03 poin persentase.

Kondisi ini dianggap mampu diserap oleh pasar domestik mengingat kenaikan kapitalisasi pasar yang cukup solid sepanjang Juli 2026. Selain itu, komposisi indeks yang lebih bersih dinilai menjadi sinyal positif bagi prospek pasar saham Indonesia di paruh kedua tahun ini.

Investor disarankan untuk tetap tenang dan memanfaatkan potensi pelemahan pasar akibat rebalancing sebagai momentum akumulasi saham. Kepastian mengenai pemulihan pasar yang lebih kuat diprediksi akan semakin jelas setelah evaluasi MSCI pada November mendatang.