JAKARTA – PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) mencatatkan kinerja keuangan yang solid sepanjang semester I-2026. Laba bersih perusahaan melonjak 29% secara tahunan menjadi US$ 106 juta.
Peningkatan profitabilitas ini didorong oleh kenaikan laba operasional perusahaan. Selain itu, beban keuangan perseroan tercatat mengalami penurunan signifikan pada periode tersebut.
Pendapatan konsolidasian BREN mencapai US$ 334 juta selama semester pertama tahun ini. Angka tersebut mencerminkan pertumbuhan sebesar 11,5% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.
Pertumbuhan pendapatan ditopang oleh peningkatan penjualan listrik dari sektor panas bumi serta segmen energi angin. Kinerja operasional yang stabil menjadi kunci utama keberhasilan perusahaan.
EBITDA perusahaan tercatat meningkat 13,1% menjadi US$ 293 juta. Sementara itu, marjin EBITDA turut menguat menjadi 87,6% dibandingkan 86,3% pada tahun sebelumnya.
Kondisi keuangan perusahaan juga semakin sehat dengan perbaikan rasio utang bersih terhadap ekuitas. Rasio Net Debt-to-Equity tercatat membaik menjadi 1,73 kali dari 1,87 kali di akhir 2025.
CEO Barito Renewables Energy, Hendra Soetjipto Tan, menyatakan bahwa pencapaian ini merupakan hasil dari eksekusi strategi pertumbuhan yang disiplin. Portofolio panas bumi dan angin perseroan terbukti memberikan kontribusi yang andal.
Hendra menyebut penyelesaian proyek retrofit Wayang Windu pada awal tahun ini memegang peranan krusial. Proyek tersebut berhasil meningkatkan kinerja operasional portofolio panas bumi perusahaan.
Saat ini, total kapasitas terpasang panas bumi BREN telah mencapai 926 megawatt (MW). Kapasitas ini diharapkan terus bertambah seiring berjalannya proyek ekspansi yang sedang dikerjakan.
Beberapa proyek utama yang tengah berjalan meliputi Salak Unit 7 dan Wayang Windu Unit 3. Selain itu, perusahaan juga melakukan retrofit pada Darajat Unit 3 untuk efisiensi aset.
Manajemen menargetkan total kapasitas terpasang panas bumi dapat melampaui 1 gigawatt (GW) pada akhir 2026. Seluruh rencana ekspansi tersebut diklaim berjalan sesuai dengan jadwal yang ditetapkan.
Fokus perusahaan ke depan adalah memperkuat posisi sebagai penyedia energi terbarukan terdepan di Indonesia. Strategi pertumbuhan yang seimbang akan tetap menjadi prioritas utama manajemen.
Di sisi lain, pasar modal Indonesia pada Jumat (31/7/2026) mencatat dinamika yang berbeda di tengah fluktuasi harga komoditas. Harga emas terpantau terkoreksi pada perdagangan pagi, namun tetap mencatatkan tren kenaikan bulanan.
Sementara itu, indeks saham domestik sempat mengalami tekanan jual dari investor asing. Meskipun terjadi net sell yang cukup besar secara keseluruhan pasar, beberapa emiten tetap menjadi incaran investor.
BREN terus berkomitmen menyediakan energi bersih yang andal bagi kebutuhan nasional. Perusahaan optimis dapat menangkap peluang transisi energi di masa depan melalui manajemen keuangan yang disiplin.






