Investasi

Yield SUN Berpotensi Naik Akibat Lonjakan Imbal Hasil US Treasury

57
×

Yield SUN Berpotensi Naik Akibat Lonjakan Imbal Hasil US Treasury

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan pasar obligasi dan instrumen keuangan global di layar monitor
Yield Surat Utang Negara (SUN) mengalami tekanan akibat lonjakan imbal hasil US Treasury dan sentimen global.

JAKARTA – Pasar Surat Utang Negara (SUN) Indonesia menghadapi tekanan berat akibat sentimen global yang memicu kenaikan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah dalam jangka pendek. Faktor utama yang menekan pasar meliputi lonjakan yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury), ketegangan geopolitik global, serta harga minyak mentah yang bertahan di atas US$ 80 per barel.

Ekonom Makro Bank Tabungan Negara (BTN), Myrdal Gunarto, menyatakan bahwa mayoritas yield SUN seri benchmark kembali mencatatkan kenaikan pada perdagangan pasar sekunder. Kondisi ini mencerminkan kelanjutan dari tren negatif yang terjadi sepanjang akhir Juli 2026.

Data pasar menunjukkan yield SUN tenor satu tahun naik sebesar 2 basis poin (bps) menjadi 6,97%. Sementara itu, yield SUN tenor 10 tahun mengalami peningkatan 1 bps menjadi 7,35% pada penutupan perdagangan akhir bulan lalu.

Koreksi pada SUN seri benchmark ini dipicu oleh aksi jual investor yang melakukan penyesuaian portofolio di akhir bulan. Tren kenaikan yield global menjadi pemicu utama di tengah kekhawatiran bahwa inflasi yang dipicu harga minyak akan memaksa bank sentral dunia menahan suku bunga di level tinggi.

Persepsi risiko terhadap aset investasi di Indonesia juga terpantau meningkat. Hal ini terlihat dari kenaikan premi Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor lima tahun yang kembali menembus angka 94,13 per 31 Juli 2026.

Peningkatan CDS tersebut mengindikasikan investor global kini menerapkan strategi risk averse atau menghindari risiko pada aset di negara berkembang. Langkah ini diambil di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi eksternal yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Di pasar sekunder, seri PBS003 dengan kupon 6,44% yang jatuh tempo pada 15 Januari 2027 menjadi obligasi negara paling aktif. Nilai transaksinya tercatat mencapai Rp 4,43 triliun dengan total 153 kali transaksi.

Sementara pada segmen obligasi korporasi, seri 5M dari Bali Towerindo Sentra mencatat volume transaksi terbesar. Obligasi dengan yield 7,83% tersebut membukukan transaksi senilai Rp 340 miliar dari tujuh kali perdagangan.

Tekanan terhadap pasar SUN diprediksi masih akan berlanjut dalam waktu dekat. Tingginya tensi geopolitik diperkirakan terus menjaga harga minyak tetap mahal, yang pada akhirnya meningkatkan ekspektasi inflasi global.

Kondisi tersebut akan mendorong yield US Treasury untuk tetap berada di level tinggi. Sebagai konsekuensinya, yield SUN harus melakukan penyesuaian agar tetap kompetitif bagi investor internasional.

Meski demikian, selisih atau spread yield antara SUN Indonesia dan US Treasury dinilai masih cukup lebar, yakni mencapai 269 bps untuk tenor 10 tahun. Gap tersebut menjadi daya tarik utama bagi investor global untuk tetap melirik pasar obligasi domestik dengan fundamental yang solid.

Dalam jangka pendek, yield SUN tenor 10 tahun diproyeksikan akan bergerak pada rentang 7,31241% hingga 7,34721%. Para pelaku pasar terus mencermati pergerakan suku bunga global sebagai penentu arah kebijakan moneter ke depan.