Emas

Permintaan Emas di Indonesia Melonjak 40%, Begini Prospeknya hingga Akhir 2026

52
×

Permintaan Emas di Indonesia Melonjak 40%, Begini Prospeknya hingga Akhir 2026

Sebarkan artikel ini
Tumpukan emas batangan dengan latar belakang grafik pasar keuangan yang menunjukkan tren investasi di Indonesia.
Permintaan emas batangan dan koin di Indonesia melonjak 40% pada kuartal kedua 2026.

JAKARTA – Pasar investasi emas di Indonesia mencatatkan kinerja paling impresif secara global pada kuartal kedua 2026. Permintaan emas batangan dan koin di dalam negeri melonjak tajam sebesar 40% secara tahunan (year on year) menjadi 15 ton.

Laporan Gold Demand Trends Q2 2026 dari World Gold Council (WGC) yang dirilis Jumat (31/7/2026) menunjukkan lonjakan ini terjadi di tengah fase konsolidasi harga emas dunia. Data Trading Economics per 31 Juli mencatat harga emas berada di level US$ 4.042,97 per ons troi.

Angka tersebut mencerminkan koreksi sebesar 6,41% sejak awal tahun (year to date). Kendati harga sempat melandai setelah mencetak rekor, minat masyarakat Indonesia terhadap logam mulia sebagai instrumen lindung nilai (safe haven) justru semakin menguat.

Head of Asia-Pacific (ex-China) dan Global Head of Central Banks WGC, Shaokai Fan, menilai ketahanan pasar Indonesia didorong oleh perubahan perilaku investor. Investor domestik kini semakin matang dalam memandang emas sebagai aset strategis jangka panjang.

Strategi ini diambil untuk menghadapi tantangan pelemahan nilai tukar rupiah serta ketidakpastian prospek ekonomi. Investor cenderung mengabaikan fluktuasi harga jangka pendek demi menjaga daya beli aset mereka.

Secara global, total permintaan emas pada kuartal kedua 2026 tercatat stabil di level 1.269 ton. Meskipun permintaan perhiasan dunia turun 17% menjadi 278 ton, sektor bank sentral justru melakukan aksi borong.

Pembelian emas oleh bank sentral global melonjak 62% secara tahunan menjadi 289 ton pada kuartal kedua. Tiongkok dan Polandia menjadi negara utama yang memimpin akumulasi cadangan devisa dalam bentuk logam mulia tersebut.

Di sisi lain, permintaan perhiasan di Indonesia mencatatkan tren penurunan selama 13 kuartal berturut-turut dengan kontraksi 10% secara tahunan. Kondisi ini sejalan dengan tekanan harga tinggi yang membebani daya beli konsumen di sektor ritel perhiasan.

Sektor teknologi justru menunjukkan pertumbuhan permintaan sebesar 2% menjadi 80 ton. Kenaikan ini dipicu oleh tingginya kebutuhan semikonduktor serta masifnya pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).

Ke depan, prospek emas dinilai tetap positif seiring dengan berlanjutnya ketidakpastian geopolitik global. Pemerintah Indonesia sendiri tengah menyiapkan Roadmap Ekosistem Bulion untuk memberikan kepastian hukum bagi investor.

Senior Markets Analyst WGC, Louise Street, menekankan bahwa pasar emas akan terus dipengaruhi oleh kebijakan moneter Amerika Serikat serta pergerakan dolar. Namun, konsistensi pembelian oleh bank sentral diprediksi akan menjadi penopang utama harga di paruh kedua 2026.

Total suplai emas dunia pada kuartal kedua terpantau stabil dengan kenaikan produksi tambang sebesar 2% menjadi 966 ton. Hal ini berhasil mengompensasi penurunan pasokan emas daur ulang sebesar 6% pada periode yang sama.