Valuta

Sentimen Global Berpotensi Tekan Rupiah di Awal Pekan Ini

58
×

Sentimen Global Berpotensi Tekan Rupiah di Awal Pekan Ini

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dolar AS di layar monitor pasar keuangan
Nilai tukar Rupiah diprediksi tertekan volatilitas pasar global pada perdagangan awal pekan ini.

JAKARTA – Nilai tukar rupiah pada perdagangan awal pekan, Senin (3/8/2026), diprediksi masih akan berada dalam tekanan volatilitas pasar global. Mata uang Garuda diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.950 hingga Rp18.100 per dolar AS.

Proyeksi ini muncul setelah rupiah mencatatkan pelemahan mingguan sebesar 0,32% pada akhir pekan lalu, meski sempat menguat secara harian ke level Rp18.022 per dolar AS pada Jumat (31/7/2026). Sentimen utama yang membayangi pasar saat ini adalah kenaikan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury).

Yield US Treasury tenor 30 tahun sempat menembus level 5,2724% pada akhir Juli, yang merupakan posisi tertinggi sepanjang tahun ini. Kenaikan biaya pinjaman di AS ini mempersempit selisih imbal hasil dengan surat berharga domestik, sehingga mengurangi daya tarik aset investasi di Indonesia bagi investor asing.

Selain faktor obligasi, pelaku pasar saat ini tengah mencermati dinamika kebijakan moneter dari Federal Reserve. Ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga acuan AS yang kian memudar turut memberikan dukungan bagi penguatan dolar AS secara global.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama konflik yang melibatkan AS dan Iran, juga menjadi perhatian serius para investor. Potensi eskalasi di wilayah tersebut dikhawatirkan mengganggu pasokan energi global dan memicu kenaikan harga minyak mentah, yang pada akhirnya dapat menekan mata uang negara berkembang.

Di sisi lain, pasar domestik tengah menantikan kepastian mengenai sosok pemimpin baru di Bank Indonesia. Kepastian kepemimpinan di otoritas moneter tersebut dipandang krusial untuk menjaga stabilitas kebijakan di tengah situasi ekonomi global yang penuh ketidakpastian.

Kalender ekonomi pekan ini akan diramaikan oleh rilis data krusial dari berbagai negara. Dari dalam negeri, pasar menanti data inflasi, neraca perdagangan, dan PMI manufaktur yang dijadwalkan rilis Senin ini, serta laporan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal II-2026 pada Rabu mendatang.

Sementara itu, data ekonomi dari Amerika Serikat dan China juga menjadi sorotan utama bagi pelaku pasar global. Indikator sektor manufaktur dan jasa dari kedua negara tersebut, ditambah dengan data pasar tenaga kerja AS seperti Non-Farm Payrolls (NFP), akan menjadi penentu arah kebijakan moneter ke depan.

Sebelumnya, rupiah sempat mendapatkan sentimen positif dari rilis data ekonomi AS yang lebih lemah dari ekspektasi pada akhir pekan lalu. Koreksi tajam pada dolar AS tersebut sempat memberikan ruang bagi mata uang regional, termasuk rupiah, untuk mengalami apresiasi sementara.

Namun, para analis menilai bahwa tren jangka pendek rupiah masih sangat bergantung pada hasil rilis data ekonomi yang akan datang. Fokus investor saat ini tetap tertuju pada bagaimana data tersebut akan memengaruhi langkah strategis The Fed dalam mengendalikan inflasi dan menjaga stabilitas ekonomi AS.