Bursa Saham

Laba Sido Muncul Turun 44%, Analis Proyeksikan Sinyal Pemulihan Kinerja

72
×

Laba Sido Muncul Turun 44%, Analis Proyeksikan Sinyal Pemulihan Kinerja

Sebarkan artikel ini
Gedung kantor dan logo PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk di Jakarta.
PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk mencatatkan penurunan laba bersih pada semester I-2026.

JAKARTA – PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) mencatatkan penurunan kinerja keuangan yang signifikan sepanjang semester I-2026. Emiten produsen jamu ini membukukan penjualan sebesar Rp1,47 triliun, turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1,83 triliun.

Koreksi pada pendapatan tersebut berdampak langsung terhadap perolehan laba bersih perusahaan. Laba bersih SIDO merosot tajam menjadi Rp333,65 miliar dari posisi sebelumnya sebesar Rp600,47 miliar pada semester pertama tahun 2025.

Analis menilai penurunan kinerja ini disebabkan oleh kombinasi pelemahan volume penjualan dan daya beli konsumen yang cenderung selektif. Selain itu, terdapat tekanan pada margin keuntungan akibat kenaikan beban operasional perusahaan.

Data menunjukkan penjualan SIDO terkoreksi sekitar 19,7% secara tahunan. Sementara itu, laba bersih mencatatkan penurunan lebih dalam hingga 44,4% dibandingkan periode sebelumnya.

Beban pemasaran serta biaya umum dan administrasi menjadi faktor yang menekan profitabilitas. Biaya-biaya tersebut belum turun secepat kontraksi pendapatan yang dialami perusahaan selama enam bulan pertama tahun ini.

Tekanan kinerja juga disinyalir berasal dari proses normalisasi persediaan di tingkat distributor. Penyesuaian skema penjualan serta melemahnya permintaan pada segmen herbal turut membebani hasil operasional.

Selain faktor pasar, kenaikan biaya tenaga kerja menjadi komponen beban tambahan bagi perusahaan. Periode hari raya yang lebih panjang pada tahun ini juga dinilai memengaruhi struktur biaya operasional secara keseluruhan.

Kendati demikian, indikasi pemulihan mulai terlihat pada kinerja kuartal II-2026. Penjualan pada periode tersebut diperkirakan meningkat hampir 30% dibandingkan kuartal sebelumnya.

Laba bersih pada kuartal II juga menunjukkan perbaikan dengan kenaikan sekitar 27% secara kuartalan. Sinyal ini menunjukkan bahwa kinerja perusahaan mulai beranjak dari titik terendah di awal tahun.

Proses pemulihan kinerja pada semester II-2026 diprediksi akan berlangsung secara bertahap. Normalisasi distribusi dan stabilisasi permintaan menjadi kunci utama bagi perbaikan fundamental perusahaan ke depan.

Konsumsi produk herbal dan suplemen berpotensi meningkat seiring pergantian musim menjelang akhir tahun. Faktor ekspor dan pengendalian biaya bahan baku juga akan menjadi penentu keberhasilan pemulihan laba.

Sebelumnya, manajemen Sido Muncul telah berupaya memperkuat bukti keamanan produk melalui peresmian Laboratorium Farmakologi. Langkah ini dilakukan untuk menjaga kepercayaan konsumen di tengah persaingan pasar yang ketat.

Di pasar modal, analis menyarankan strategi buy on weakness pada level harga Rp350 per saham. Jika terjadi rebound, saham SIDO berpotensi menguji level resistensi di kisaran Rp390 hingga Rp400 per saham.

Target lanjutan untuk pergerakan harga saham emiten ini diperkirakan berada di level Rp440 per saham. Namun, investor tetap diingatkan akan risiko penurunan lanjutan jika harga menembus level support yang ada.