JAKARTA – Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan nilai tukar rupiah berpotensi melemah hingga menyentuh level Rp 19.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir Juni 2026.
Ibrahim menyatakan bahwa probabilitas pelemahan ke level tersebut sangat tinggi. Sementara untuk perdagangan pekan depan, ia memperkirakan rupiah akan bergerak di rentang Rp 17.950 hingga Rp 18.250 per dolar AS.
Tren pelemahan rupiah ini dipicu oleh dua faktor utama, yakni ketegangan geopolitik yang berkelanjutan serta kebijakan bank sentral AS, The Fed, yang cenderung mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga.
Selain menekan mata uang Garuda, penguatan indeks dolar AS juga diprediksi berdampak pada kenaikan harga minyak serta penurunan nilai emas dan logam mulia. Ibrahim memprediksi harga minyak WTI berada di kisaran US$ 85 hingga US$ 101 per barel.
Secara rinci, Ibrahim menyoroti tiga faktor utama yang memicu fluktuasi pasar global saat ini:
Pertama, eskalasi geopolitik di Timur Tengah. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah AS melakukan serangan di sekitar Selat Hormuz, termasuk Pulau Qeshm. Ibrahim menilai gencatan senjata antara kedua negara kemungkinan tidak akan bertahan lama, mengingat indikasi AS untuk meningkatkan kehadiran militernya di kawasan tersebut.
Kedua, situasi politik domestik di Amerika Serikat. Meski Kongres AS dari Partai Republik telah menyetujui penghentian anggaran perang, Presiden Donald Trump dilaporkan tetap melanjutkan aksi militer. Keputusan sepihak ini menambah ketidakpastian pasar global.
Ketiga, kebijakan moneter The Fed. Ibrahim memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi dan kemungkinan menaikkannya sebesar 25 basis poin pada kuartal ketiga tahun ini. Kebijakan ini memperkuat posisi dolar AS, sehingga memicu aksi beli masyarakat terhadap mata uang tersebut dan menyebabkan harga logam mulia tertekan.
Dalam skenario terburuk, Ibrahim memperingatkan bahwa jika perang di Timur Tengah tidak segera berakhir, rupiah berisiko terus tertekan hingga menembus level Rp 25.000 per dolar AS pada akhir tahun 2026. Menurutnya, pemulihan ekonomi baru mungkin terjadi pada akhir 2027 seiring dengan berakhirnya konflik global tersebut.







