Tutup
Regulasi

Analisis IHSG 21 April: Cermati Rekomendasi Saham di Level Krusial

122
×

Analisis IHSG 21 April: Cermati Rekomendasi Saham di Level Krusial

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan bergerak konsolidasi dengan kecenderungan melemah pada perdagangan hari ini, Selasa (21/4/2026). Sentimen negatif dari meningkatnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi pemicu utama tekanan pada pasar saham nasional.

Sebelumnya, pada perdagangan Senin (20/4/2026), IHSG ditutup turun 0,52% ke level 7.594,11. Meski sempat dibuka menguat, indeks gagal mempertahankan momentum hingga akhir sesi perdagangan.

Peningkatan ketegangan di Timur Tengah telah memudarkan harapan pembukaan kembali Selat Hormuz. Kondisi ini secara langsung memicu lonjakan harga minyak mentah dunia, di mana harga minyak WTI kini menyentuh US$ 89 per barel dan Brent berada di level US$ 95 per barel.

Secara teknikal, IHSG diperkirakan bergerak dalam rentang konsolidasi di kisaran 7.500 hingga 7.700. Level *support* dipatok pada 7.500, dengan titik *pivot* di 7.600 dan *resistance* di 7.700.

Di sisi lain, pasar juga mencermati kondisi dalam negeri. Rupiah terpantau menguat tipis 0,12% ke level Rp17.168 per dolar AS di pasar spot. Penguatan ini didorong oleh kebijakan penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang dianggap mampu menjaga beban APBN.

Dari mancanegara, Bank Sentral Tiongkok memutuskan untuk mempertahankan suku bunga pinjaman utama (*Loan Prime Rate*) di level 3% untuk tenor satu tahun dan 3,5% untuk tenor lima tahun. Kebijakan ini mencerminkan sikap kehati-hatian otoritas moneter Tiongkok di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Analisis teknikal dari Mirae Asset Sekuritas menunjukkan bahwa IHSG saat ini berada dalam kondisi jenuh beli (*overbought*), yang membatasi ruang penguatan. Indikator *Stochastic* dan RSI memang masih menunjukkan sinyal positif, namun penurunan volume perdagangan menjadi catatan tersendiri. IHSG diproyeksikan memiliki *support* pada level 7.447 dan 7.346, sementara *resistance* berada di 7.677 dan 7.774.

Selain konflik geopolitik, pelaku pasar kini tengah menantikan rilis data ekonomi global, termasuk tingkat pengangguran Inggris yang diprediksi sebesar 5,2% serta data penjualan ritel Amerika Serikat yang diperkirakan tumbuh 1,1% secara bulanan untuk periode Maret 2026.

Menyikapi pergerakan pasar hari ini, sejumlah saham direkomendasikan untuk dicermati, di antaranya IMPC, BRMS, TAPG, SMDR, dan DSNG.

Regulasi

Jakarta, IDN Times – PT Wahana Interfood Nusantara Tbk (IDX: COCO) siap menerbitkan sebanyak-banyaknya 10,67 miliar saham baru melalui skema rights issue. Langkah strategis ini telah resmi mendapatkan restu pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar di Jakarta, Jumat (17/4). 1. Siapkan saham baru Rp100 per saham…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) belum berhasil kembali ke level Rp 7.000. BBCA menutup perdagangan Senin (20/4) dengan menguat 0,78% atau naik 50 poin ke level Rp 6.475 per saham. Jika ditarik lebih jauh, saham bank berlogo bunga cengkeh itu sudah terkoreksi 19,81% secara year to date. Anjloknya saham BBCA turut menjadi pemberat bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Dengan pelemahan yang hampir 20% itu, BBCA…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Sejumlah tantangan masih menyelimuti kinerja emiten konstruksi di tahun 2026, baik itu emiten BUMN karya maupun swasta. Pada tahun 2025, kinerja emiten konstruksi swasta tampak lebih unggul dibandingkan BUMN karya. Tengok saja, PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) membukukan pendapatan Rp 3,90 triliun, naik 26,35% dibandingkan Rp 3,08 triliun pada tahun sebelumnya. Lonjakan pendapatan tersebut turut mendongkrak laba bersih…