Jakarta – APBN 2025 diperkirakan mengalami defisit Rp695,1 triliun.
angka ini setara dengan 2,92 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat, defisit ini lebih tinggi dari asumsi awal yang sebesar Rp616,2 triliun atau 2,53 persen dari PDB.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan defisit ini masih dalam batas aman.
“Walaupun defisit membesar,kita tetap jaga bahwa defisitnya tidak di atas 3 persen,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta,kamis (8/1).
Menkeu menjelaskan, defisit naik menjadi 2,92 persen dari rencana awal 2,53 persen.
Defisit terjadi karena belanja negara lebih besar dari pendapatan.
Realisasi pendapatan negara mencapai Rp2.756,3 triliun atau 91,7 persen dari target.
Sementara, belanja negara mencapai Rp3.451,4 triliun atau 95,3 persen dari target.
Pemerintah tidak memotong belanja negara untuk menjaga pertumbuhan ekonomi.
“Ketika ekonomi kita menurun, kita harus menurunkan stimulus perekonomian,” kata purbaya.
Pendapatan negara per 31 Desember 2025 berasal dari penerimaan pajak sebesar Rp1.917,6 triliun.
Selain itu, ada juga dari kepabeanan dan cukai senilai Rp300 triliun, serta PNBP sejumlah Rp534,1 triliun.
Belanja negara untuk pemerintah pusat mencapai Rp2.602,2 triliun atau 96,3 persen.
Transfer ke daerah (TKD) terealisasi Rp894,1 triliun atau 92,3 persen dari pagu APBN 2025.
Keseimbangan primer mencapai Rp180,7 triliun atau 63,3 persen dari target.
realisasi pembiayaan anggaran mencapai Rp744 triliun dengan SILPA tercatat Rp48,9 triliun.







